Jejak Kata, Jejak Jiwa: Mengapa Profesional Perlu Menulis

Jumari Haryadi
Jumari Haryadi
Jumari Haryadi atau biasa disingkat J.Haryadi mulai menekuni dunia tulis menulis sejak 2007. Ilmu menulis dipelajarinya secara otodidak. Pada 2 Mei 2013 ia bersama temannya, Adrie Noor...
- Penulis
702 Views
10 Min Read

INTELEKTUALTUAL PUBLIK – Senin (11/08/2025) – Artikel berjudul “Jejak Kata, Jejak Jiwa: Mengapa Profesional Perlu Menulis” ini ditulis oleh Jumari Haryadi: seorang penulis, pegiat literasi, dan konten kreator. Penulis tinggal di Desa Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Menulis adalah kerja sunyi yang gaungnya bisa terdengar jauh melampaui dinding ruang kerja kita. Banyak orang mengira bahwa belajar menulis hanya untuk mereka yang bercita-cita menjadi penulis, padahal sejatinya menulis adalah keterampilan universal yang layak dimiliki setiap profesional. Ia bukan semata-mata soal buku, novel, atau puisi; menulis adalah seni menyampaikan isi kepala dan isi hati kepada orang lain, membiarkan pikiran kita menjelajah dan mengalir dalam bentuk kata.

Bagi para profesional, menulis adalah sarana berbagi ilmu dan pengalaman yang telah ditempa oleh waktu. Seorang arsitek yang menceritakan proses merancang bangunan ramah lingkungan, seorang dokter yang menulis kisah-kisah edukatif tentang kesehatan, atau seorang pengusaha yang menuturkan perjalanan jatuh bangun merintis usaha—semuanya bukan sekadar catatan, tetapi warisan pengetahuan yang bisa diakses siapa saja.

Kegiatan menulis
Ilustrasi: Seorang profesional muda sedang menulis – (Sumber: Arie)

Ernest Hemingway pernah berkata, “There is nothing to writing. All you do is sit down at a typewriter and bleed.” Menulis memang seperti meneteskan darah pengalaman kita di atas kertas, lalu membiarkan orang lain belajar darinya.

Manfaat lain yang sering tak disadari adalah kemampuannya mengasah otak. Saat menulis, kita dipaksa merangkai logika, mengingat detail, dan menautkan gagasan. Otak bekerja seperti pisau yang diasah: semakin sering digunakan, semakin tajam.

Albert Einstein pernah mengatakan, “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” Menulis memaksa kita memahami sesuatu dengan baik, agar bisa menjelaskannya dengan sederhana.

Menulis juga memperluas wawasan. Dalam proses menuangkan ide, kita sering mencari referensi, membaca ulang, atau menggali sudut pandang baru. Seorang manajer pemasaran yang menulis artikel tentang tren konsumen akan menemukan bahwa ia perlu memahami data statistik dan perilaku sosial. Bahkan, psikologi pembelian.

Lama-kelamaan, menulis menjadi pintu masuk bagi pengetahuan lintas disiplin. Dalam proses itu, kita belajar bahwa setiap topik punya cabang yang tak pernah habis untuk dieksplorasi, seperti akar pohon yang terus mencari sumber air.

Tak kalah penting, menulis membuat kita dikenal. Pada era digital, tulisan yang diunggah di media sosial, blog, atau jurnal profesional dapat menjangkau ribuan orang. Dari sebuah artikel, nama kita bisa melekat di ingatan pembaca. Ini bukan sekadar soal popularitas, melainkan kredibilitas.

Tulisan yang jernih dan bermanfaat membentuk reputasi kita di mata dunia. Maya Angelou pernah berkata, “There is no greater agony than bearing an untold story inside you.” Dengan menulis, kita membiarkan cerita itu keluar dan menyentuh orang lain, sekaligus membangun citra diri yang autentik.

Menulis pun membuka kesempatan untuk menambah teman. Setiap pembaca adalah pintu ke hubungan baru. Ada yang menghubungi karena setuju, ada yang ingin berdiskusi, ada yang mengundang kerja sama.

Seorang pengajar yang rajin menulis catatan refleksi pengajaran di media sosial mungkin akan dihubungi oleh pendidik lain dari kota berbeda, lalu terbentuklah jejaring yang bermanfaat. Dalam dunia profesional, jaringan seperti ini sering menjadi kunci membuka peluang baru yang tak terduga.

Di sisi lain, menulis adalah proses introspeksi. Saat menulis, kita mengamati diri sendiri dari jarak tertentu. Pikiran yang berserak di kepala dipaksa untuk duduk rapi di barisan kalimat. Terkadang, kita menemukan jawaban atas pertanyaan yang tak sempat terucap. Menulis adalah cermin yang jujur, kadang memperlihatkan sisi kita yang selama ini terabaikan.

Dalam perjalanan itu, kita juga belajar rendah hati. Tulisan yang dibaca orang lain akan memantik komentar, kritik, bahkan bantahan. Ada kalanya kita merasa disalahpahami, ada pula saat kita sadar telah keliru. Menulis mengajarkan bahwa kebenaran adalah proses, bukan tujuan akhir. Bahwa setiap kata yang kita lepaskan ke dunia, akan hidup dengan tafsirnya sendiri.

Bagi seorang profesional, menulis adalah investasi jangka panjang. Ia mungkin tak menghasilkan uang secara langsung, tetapi menanamkan nilai pada nama kita, mengabadikan keahlian yang kita miliki, dan meninggalkan jejak yang bisa diikuti generasi berikutnya. Kata-kata adalah perahu yang melintasi waktu; hari ini kita menulisnya, esok atau bertahun-tahun lagi orang lain bisa menemuinya dan merasakan manfaatnya.

Menulis, pada akhirnya adalah bentuk kepedulian. Kepedulian terhadap ilmu yang kita miliki agar tak terkubur bersama kita. Kepedulian terhadap orang lain yang mungkin membutuhkan petunjuk dari pengalaman kita. Juga kepedulian terhadap diri sendiri agar pikiran kita terus hidup dan berkembang.

Penulis terkenal Indonesia, Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Menulis memang sunyi, tapi gema manfaatnya bisa bertahan seumur hidup. Dalam setiap kata yang kita pilih, terselip secuil jiwa kita—yang kelak akan berbicara kepada dunia, bahkan saat kita sudah tak lagi ada di dalamnya. (Jumari Haryadi).

***

Judul: Jejak Kata, Jejak Jiwa: Mengapa Profesional Perlu Menulis
Penulis: Jumari Haryadi: Penulis, Pegiat Literasi, dan Konten Kreator
Editor: Iqbal

Sekilas tentang Penulis

Jumari Haryadi atau biasa disingkat J.Haryadi lahir di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Ia merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Almarhum bapaknya, Kohar bin Kadis berasal dari Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur dan merupakan pensiunan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan pangkat terakhir Mayor Infantri. Mamaknya adalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan.

Sejak 2007 J.Haryadi menekuni dunia tulis menulis. Ilmu menulis dipelajarinya secara otodidak setelah terinspirasi oleh seorang penulis asal Yogyakarta yang dikenalnya saat ia masih menjalankan bisnis di bidang teknologi Informasi di Bandung dan Jakarta. Sejak saat itu ia terus mengembangkan kemampuan menulisnya sekaligus mendirikan komunitas penulis bersama teman-temannya dengan nama Aliansi Penulis Independen (API). Komunitas penulis ini kemudian berubah nama menjadi Aliansi Penulis Indonesia (API).

Jumari Haryadi
Jumari Haryadi alias J. Haryadi, Penulis/Pengarang – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pada 2 Mei 2013 J.Haryadi bersama Adrie Noor dan Luki Adriansyah mendirikan komunitas penulis dengan nama Komunitas Penulis Kreatif atau biasa disebut KPKers di Kota Bandung. Komunitas ini kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, sampai ke manca negara, seperti Malaysia, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, Timor Leste, dan lain-lain.

Selain menulis, J.Haryadi juga menjadi trainer dan coach pelatihan menulis dan jurnalistik di beberapa provider, di antaranya Intermedia Karya Utama, Value Consult, Sinergi, Sekolah Menulis, dan lain-lain. Ia juga sering diundang sebagai pembicara seminar atau inhouse training dalam bidang literasi, khususnya kepenulisan.

J.Haryadi pernah mengisi berbagai pelatihan menulis profesional di neberapa lembaga pemerintah maupun swasta, seperti Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Bandung Barat, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, PT Semen Padang, Balai Besar POM di Manado – Sulawesi Utara, Balai Besar POM di Kupang – Nusa Tenggara Timur, Dirjen Pothan – Kementerian Pertahanan RI, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan masih banyak lainnya.

Sebagai penulis profesional, sudah lebih dari 30 buah buku yang dihasilkan dari tangan J.Haryadi, baik buku solo, buku antologi, maupun buku-buku orang lain sebagai ghost writer. Beberapa buku karya J.Haryadi ada yang diterbitkan di penerbit mayor seperti Elexmedia Komputindo, RuangKata, Qultum Media, dan lain-lain. Bahkan, beberapa di antara buku-buku karyanya tersebut ada yang berhasil menjadi buku best seller.

Selain menulis buku, J.Haryadi juga menulis dalam bentuk nonfiksi (artikel, berita, dan feature) dan fiksi (puisi dan cerpen) di media cetak dan media online. Beberapa karyanya pernah terbit di Kompas, Majalah Wantanas, Harian Kontan, Harian Bernas, UC Media, Kompasiana, Harian Online Kabar Indonesia, Pratama Media News, dan lain-lain. Beberapa tulisannya di media online ada yang sudah dibaca lebih dari 100 ribu pembaca.

Kini, selain menjadi jurnalis di media online, J.Haryadi juga menjadi Konsultan Editor Majalah Inspirasi (MI) Universitas Maranatha Bandung dan dosen tamu Creative Writing di Universitas Widyatama Bandung, serta mengelola beberapa media online, seperti Pratama Media News, Cimahi Actual News, Berita Jabar News, Asep News, dan MajmusSunda News.

Siapa saja yang berminat bekerja sama dengan J.Haryadi  dalam bidang publikasi melalui media, content writing, ghost writer, pelatihan menulis dan jasa kepenulisan, silakan hubungi WA: 0852-1726-0169

***

Tentang Penulis

Follow:
Jumari Haryadi atau biasa disingkat J.Haryadi mulai menekuni dunia tulis menulis sejak 2007. Ilmu menulis dipelajarinya secara otodidak. Pada 2 Mei 2013 ia bersama temannya, Adrie Noor dan Luki Adriansyah mendirikan komunitas penulis dengan nama Komunitas Penulis Kreatif atau biasa disebut KPKers di Kota Bandung. Selain menulis, ia juga menjadi trainer dan coach pelatihan menulis dan jurnalistik di beberapa provider, di antaranya Intermedia Karya Utama, Value Consult, Sinergi, Sekolah Menulis, dan lain-lain.

***

Follow:
Jumari Haryadi atau biasa disingkat J.Haryadi mulai menekuni dunia tulis menulis sejak 2007. Ilmu menulis dipelajarinya secara otodidak. Pada 2 Mei 2013 ia bersama temannya, Adrie Noor dan Luki Adriansyah mendirikan komunitas penulis dengan nama Komunitas Penulis Kreatif atau biasa disebut KPKers di Kota Bandung. Selain menulis, ia juga menjadi trainer dan coach pelatihan menulis dan jurnalistik di beberapa provider, di antaranya Intermedia Karya Utama, Value Consult, Sinergi, Sekolah Menulis, dan lain-lain.

***

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us