Perlukah Generasi Z Khawatir Dengan Otomatisasi Pekerjaan?

Iqbal
Iqbal - Bloggerpreneur
653 Views
6 Min Read

Bagaimana dunia kerja berlangsung di masa yang akan datang? Mungkin humanoid-robot akan lalu lalang di sekitar kira. Ada dimana-mana.

Laporan dari McKinsey Global Institute, misalnya, memprediksi bahwa 30% pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terotomatisasi pada tahun 2030.

@enrobot.lab

Next-Gen Humanoid Robot at the World Expo | Live Interaction#robot #humanoidrobot #robotics #humanoid #tech #cyberpunk #Tech #shorts #WAIC

♬ Jesus Te Necesito – Join

Mesin-mesin otomatisasi, baik berupa humanoid robot atau yang lainnya, mampu bekerja tanpa henti. Mereka bakal mengelola berbagai aktivitas manufaktur, hingga gudang dan logistik. Algoritma-algoritma mengambil alih penulisan berbagai berita, dan berbagai agen kecerdasan buatan menganalisis data-data keuangan dengan kecepatan dan akurasi yang melampaui kehebatan manusia.

Ya, sebenarnya kita sedang bergerak menuju era ini. Lihat saja di sekitar kita. Berbagai otomatisasi pekerjaan sudah mengambil alih manusia. Banyak peran dan tugas yang tadinya dikerjakan manusia, kini diambil alih oleh robot dan mesin-mesin kecerdasan buatan lainnya.

Pertanyaannya: perlukah Generasi Z khawatir dengan semua fenomena ini? Gimana nasib pekerjaan di masa depan?

Sayangnya, jawabannya gak semudah kata “ya” atau “tidak”. Otomatisasi dan robotisasi ini memang membawa ancaman yang cukup besar, tetapi sebenarnya ia juga menawarkan berbagai peluang. Jadi ya, kita perlu melihatnya secara menyeluruh, bukan hanya melalui lensa ketakutan akan kehilangan pekerjaan.

Memang ada jutaan pekerjaan berisiko terganti oleh otomatisasi. Sebuah angka yang tak bisa kita abaikan. Umumnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat repetitif, terstruktur, dan mudah diprogram, seperti pekerjaan di pabrik, pusat panggilan, dan bahkan beberapa peran di sektor keuangan, jelas cukup rentan diganti oleh mesin-mesin AI.

Misalnya saja pekerjaan seorang kasir supermarket. Apakah pekerjaan ini akan tetap ada dalam 10 tahun mendatang? Kemungkinannya, sebagian besar tugasnya akan diambil alih oleh mesin kasir otomatis atau sistem pembayaran digital.

Tetapi, mari kita berpikir sejenak. Apakah ini berarti kiamat bagi Generasi Z? Belum tentu. Sejarah menunjukkan bahwa otomatisasi, meskipun menghilangkan beberapa pekerjaan, juga menciptakan pekerjaan baru. Revolusi industri, misalnya, menghancurkan banyak pekerjaan pertanian, tetapi menciptakan jutaan pekerjaan baru di pabrik dan sektor manufaktur. Yang berubah adalah jenis pekerjaan yang tersedia.

Jadi, apa jenis pekerjaan baru yang akan diciptakan oleh otomatisasi? Kita berbicara tentang pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah kompleks, dan kecerdasan emosional—kualitas-kualitas yang sulit, bahkan tidak mungkin, untuk direplikasi oleh mesin.

Pekerjaan di bidang perawatan kesehatan, pendidikan, seni, dan teknologi informasi, misalnya, cenderung lebih tahan terhadap otomatisasi. Perancang UX/UI, ahli data, spesialis kecerdasan buatan, dan bahkan terapis—semua ini adalah profesi yang kemungkinan besar akan berkembang pesat di masa depan.

Namun, transisi ini tidak akan mudah. Generasi Z perlu mempersiapkan diri. Pendidikan dan pelatihan menjadi kunci. Kita perlu berinvestasi dalam sistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan pasar kerja masa depan.

Ini berarti menekankan pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), tetapi juga keterampilan lunak seperti komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita memastikan transisi ini adil dan inklusif? Otomatisasi berpotensi memperburuk kesenjangan ekonomi. Jika hanya sebagian kecil populasi yang memiliki akses ke pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk pekerjaan baru, maka kesenjangan antara kaya dan miskin akan semakin melebar. Pemerintah dan sektor swasta perlu bekerja sama untuk menciptakan program pelatihan dan reskilling yang terjangkau dan mudah diakses oleh semua orang, terutama mereka yang bekerja di sektor yang paling terdampak otomatisasi.

Lalu bagaimana dengan peran pemerintah? Jelas pemerintah memiliki peran paling penting mengatur perkembangan otomatisasi, memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk keuntungan segelintir orang. Ini termasuk menciptakan kebijakan yang melindungi pekerja dari pemutusan hubungan kerja massal, memberikan jaring pengaman sosial yang kuat, dan mendorong inovasi yang bertanggung jawab. Apakah pemerintah kita sudah siap menghadapi tantangan ini? Kita perlu mengawasi dan menuntut akuntabilitas.

Selain itu, kita juga perlu mempertimbangkan implikasi etis dari otomatisasi. Siapa yang bertanggung jawab jika sebuah algoritma membuat kesalahan yang berdampak buruk? Bagaimana kita memastikan bahwa teknologi digunakan dengan cara yang adil dan tidak bias? Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan perdebatan publik yang serius dan solusi yang komprehensif.

Kita juga tidak bisa mengabaikan peran individu. Generasi Z perlu menjadi pembelajar seumur hidup. Dunia kerja yang terus berubah membutuhkan adaptasi yang konstan. Mempelajari keterampilan baru, mengikuti perkembangan teknologi, dan mengembangkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan adalah kunci untuk bertahan dan berkembang dalam era otomatisasi. Jangan hanya mengandalkan pendidikan formal; pelajari hal-hal baru secara mandiri, ikuti kursus online, dan bangun jaringan profesional.

Akhirnya, kita kembali ke pertanyaan awal: perlukah Generasi Z khawatir dengan otomatisasi pekerjaan? Ya, kita perlu waspada. Tetapi bukan dengan rasa takut yang melumpuhkan, melainkan dengan kesadaran dan proaktif.

Otomatisasi adalah kekuatan yang dahsyat, tetapi ia adalah alat, bukan tuhan. Bagaimana kita menggunakan alat ini—untuk membangun masa depan yang lebih baik atau untuk memperburuk ketidaksetaraan—tergantung pada pilihan kita sekarang.

Generasi Z memiliki kesempatan unik untuk membentuk masa depan kerja. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mulailah belajar, beradaptasi, dan berjuang untuk menciptakan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan di era otomatisasi.

Masa depan pekerjaan ada di tangan kita. Apakah kita akan membiarkannya ditentukan oleh algoritma, atau kita akan membentuknya sendiri?

___________
Catatan Penulis:
Artikel ini ditulis dengan bantuan penulisan oleh chatGPT, dengan arahan substansi, gaya tulisan, desain alur, koreksi dan kurasi manual oleh penulis.

Tentang Penulis

Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us