Negeri yang Tak Pernah Sepi

Febri Yazid
367 Views
5 Min Read

 

 

Indonesia bukan negeri yang lahir dari keheningan. Ia tumbuh dari dentuman sejarah, dari darah, doa, dan perdebatan panjang tentang arah masa depan. Sejak proklamasi 1945, tongkat kepemimpinan telah berpindah dari tangan ke tangan, dari Soekarno hingga kini di bawah Prabowo Subianto. Namun satu hal yang seakan tak pernah berubah bahwa setiap rezim selalu diiringi kegaduhan, gejolak, bahkan upaya menggoyang kekuasaan.

Sejak awal, Indonesia tidak dibangun di atas fondasi yang tenang. Setelah kemerdekaan, bangsa ini langsung dihadapkan pada berbagai konflik. baik dari dalam maupun luar negeri. Perbedaan ideologi, kepentingan daerah, hingga tarik-menarik pengaruh global menjadikan politik Indonesia seperti ladang yang selalu bergolak.

Peristiwa seperti Gerakan 30 September 1965 bukan hanya meninggalkan luka sejarah, tetapi juga membentuk karakter kekuasaan yang penuh kewaspadaan, bahkan kecurigaan. Dari sana, lahirlah pola relasi antara penguasa dan rakyat yang tidak selalu harmonis.

Setiap rezim datang dengan janji, membawa perubahan, menghadirkan kesejahteraan, dan menegakkan keadilan. Namun dalam perjalanan, kekuasaan sering kali berhadapan dengan ketakutan, takut kehilangan legitimasi, takut dikritik, bahkan takut digantikan.

Pada masa Soeharto, stabilitas dijaga dengan kontrol yang ketat. Kritik dibungkam demi ketertiban. Namun sejarah membuktikan, ketenangan yang dipaksakan tidak pernah benar-benar damai. Ia hanya menunggu waktu untuk pecah dan itu terjadi pada Reformasi 1998.

Reformasi membuka keran kebebasan. Suara rakyat menemukan ruangnya. Namun bersamaan dengan itu, lahir pula dinamika baru berupa kebebasan yang kadang melampaui batas, kritik yang berubah menjadi caci maki, dan perbedaan yang menjelma perpecahan.

Dalam sistem demokrasi, kegaduhan bukanlah hal yang asing. Ia adalah konsekuensi dari kebebasan. Setiap orang berhak bersuara, setiap kelompok merasa memiliki kepentingan, dan setiap keputusan pemerintah selalu berpotensi diperdebatkan.

Namun di Indonesia, demokrasi sering kali berjalan tanpa kedewasaan yang cukup. Informasi menyebar cepat, tetapi tidak selalu benar. Opini dibentuk bukan oleh data, melainkan oleh emosi. Akibatnya, ruang publik menjadi riuh, bukan oleh dialog yang mencerahkan, tetapi oleh pertarungan narasi yang saling meniadakan.

 

Di titik ini, “menggoyang pemerintah” menjadi fenomena yang berulang. Sebagian lahir dari kepedulian rakyat, sebagian lagi digerakkan oleh kepentingan elite yang tak pernah benar-benar selesai dengan ambisi kekuasaan.

Di balik semua itu, ada persoalan yang lebih mendasar: ketimpangan. Ketika keadilan terasa jauh, ketika kesejahteraan tidak merata, dan ketika hukum terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas, maka kepercayaan publik perlahan terkikis.

Rakyat yang kecewa tidak selalu diam. Mereka mencari cara untuk bersuara, melalui demonstrasi, kritik, atau bahkan perlawanan terbuka. Dalam situasi seperti ini, setiap kebijakan pemerintah bisa menjadi pemantik, dan setiap kesalahan kecil bisa membesar menjadi krisis.

Tidak semua gejolak lahir dari ketulusan. Dalam dunia politik, selalu ada ruang bagi manuver. Ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi, meniupkan isu, dan menggerakkan opini demi tujuan tertentu.

Di sinilah publik sering berada di persimpangan: sulit membedakan mana kritik yang jujur, dan mana yang sekadar alat untuk merebut kekuasaan.

Namun satu hal yang pasti, ketika kepercayaan melemah, ruang bagi kegaduhan akan selalu terbuka.

Lalu, apakah Indonesia sedang tidak baik-baik saja?

Kegaduhan yang terjadi dari masa ke masa bisa juga dibaca sebagai tanda bahwa Indonesia adalah negeri yang hidup. Sebuah bangsa yang tidak diam, yang terus bertanya, yang terus menguji pemimpinnya.

Namun, kegaduhan tanpa arah hanya akan melelahkan. Ia tidak melahirkan solusi, hanya memperpanjang konflik.

Indonesia hari ini sedang belajar, belajar menjadi demokrasi yang matang, belajar menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab, dan belajar bahwa perbedaan tidak harus berujung pada perpecahan.

Negara bukan hanya tentang presiden, bukan pula sekadar tentang pemerintah. Ia adalah cerminan dari masyarakatnya. Jika politik terasa gaduh, mungkin karena kita belum sepenuhnya dewasa dalam menyikapi perbedaan. Jika kepercayaan mudah runtuh, mungkin karena integritas belum menjadi nilai bersama.

Jika setiap rezim selalu diguncang, mungkin itu bukan semata kesalahan pemimpin, tetapi juga tanda bahwa kita semua masih dalam proses menjadi bangsa yang utuh.

Indonesia bukan negeri yang gagal, tetapi negeri yang sedang belajar berdiri tegak di tengah badai. Bisa jadi melalui kegaduhan itulah, kita perlahan menemukan arah.(fsy)

Tentang Penulis

Febri Satria Yazid, lahir 13 Februari 1967, meski berlatar pendidikan Teknik Aeronotika dibidang Bonding Composite dan Ilmu Ekonomi jurusan Akuntansi, kegemaran menulisnya tidak terhalang oleh profesinya dibidang Manufacturing. Mempunyai bakat menulis dari kakek & ibunya dan kebiasaan berada di lingkungan yang memiliki minat serupa turut mengasah kemampuannya dalam dunia literasi.Juni 2025, ia baru saja terpilih sebagai Ketua Forum TBM Kota Cimahi Periode 2025-2030, melengkapi perannya sebagai Jurnalis pada media online Pratama Media News dan Jawa Barat News sejak 4 tahun terakhir.Penulisan novelet pertama ini didorong oleh gagasannya yang kuat untuk menjembatani dua generasi."Kita Jembatani Literasi Intergenerasi , Generasi Muda yang Butuh "Akar", dengan Generasi Lansia yang Butuh "Sayap", melalui cerita dalam novelet ini, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda dalam menyikapi sisi-sisi kehidupan yang diungkap generasi tua, sebagai pesan berharga.Sebelumnya dia telah menulis 3 buku antologi dan 4 buku karya sendiri berjudul: Aura Positif, Merdeka dari Penjara Mental, Meramu Jiwa, dan Meretas Jalan di Tengah Kabut
Febri Satria Yazid, lahir 13 Februari 1967, meski berlatar pendidikan Teknik Aeronotika dibidang Bonding Composite dan Ilmu Ekonomi jurusan Akuntansi, kegemaran menulisnya tidak terhalang oleh profesinya dibidang Manufacturing. Mempunyai bakat menulis dari kakek & ibunya dan kebiasaan berada di lingkungan yang memiliki minat serupa turut mengasah kemampuannya dalam dunia literasi.Juni 2025, ia baru saja terpilih sebagai Ketua Forum TBM Kota Cimahi Periode 2025-2030, melengkapi perannya sebagai Jurnalis pada media online Pratama Media News dan Jawa Barat News sejak 4 tahun terakhir.Penulisan novelet pertama ini didorong oleh gagasannya yang kuat untuk menjembatani dua generasi."Kita Jembatani Literasi Intergenerasi , Generasi Muda yang Butuh "Akar", dengan Generasi Lansia yang Butuh "Sayap", melalui cerita dalam novelet ini, ia berharap dapat menginspirasi generasi muda dalam menyikapi sisi-sisi kehidupan yang diungkap generasi tua, sebagai pesan berharga.Sebelumnya dia telah menulis 3 buku antologi dan 4 buku karya sendiri berjudul: Aura Positif, Merdeka dari Penjara Mental, Meramu Jiwa, dan Meretas Jalan di Tengah Kabut
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us