Dari Energi Negatif, Algoritma, hingga Seni Memilah
Sembilan bulan sudah 2026 berjalan.
Tahun yang pada awalnya kita sambut dengan harapan, resolusi, dan doa, kini perlahan memasuki penghujung September. Namun, semakin jauh tahun ini berjalan, semakin terasa bahwa tantangan manusia modern bukan semata bagaimana bertahan hidup, melainkan bagaimana tetap waras di tengah kehidupan yang terlalu ramai.
Belum sempat memahami satu persoalan, sudah datang persoalan lain yang meminta perhatian. Ponsel berbunyi, notifikasi masuk, video pendek berganti video pendek. Sebuah berita memancing kemarahan, komentar berikutnya memancing kebencian, lalu algoritma menghadirkan kembali konten-konten yang serupa. Kita merasa sedang mencari informasi, padahal bisa jadi kita sedang dibentuk oleh informasi yang terus-menerus dipilihkan untuk kita.
Kesadaran itu menguat setelah menyimak percakapan I Wayan Mustika dan Abu Marlo berjudul Mengapa Kita Capek Bersama Orang Bad Vibes atau Bad Energy? Stay Positive Meski di Lingkungan Negatif. Percakapan tersebut menarik karena menggunakan bahasa sederhana untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Salah satu analoginya adalah air tanah, pompa, dan toren.
Air tanah dapat dibayangkan sebagai sumber energi yang tersedia. Pompa menggambarkan mekanisme yang menjaga keseimbangan. Sedangkan toren adalah diri kita berupa pikiran, emosi, kesadaran, dan batin. Ketika air dalam toren berkurang, pompa bekerja mengisinya kembali.
Demikian pula manusia. Ada saatnya kita lelah, kecewa, marah dan kehilangan semangat. Hal itu manusiawi. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita membiarkan diri terlalu lama berada dalam suasana yang terus-menerus menguras, sehingga toren batin kita akhirnya kosong.
Dalam konteks ini, istilah “energi positif” dan “energi negatif” dapat kita pahami sebagai bahasa reflektif. Ia bukan ukuran ilmiah tentang suatu kekuatan yang dapat diukur seperti suhu atau tekanan, melainkan cara sederhana untuk menggambarkan pengaruh suasana, pikiran, percakapan, dan lingkungan terhadap kondisi psikologis kita.
Karena itu, apa yang kita konsumsi secara mental juga perlu diperlakukan seperti apa yang kita konsumsi secara fisik. Tidak semua yang tersedia harus dimakan dan tidak semua yang mengundang emosi harus ditanggapi.
Barangkali salah satu paradoks zaman ini adalah kita tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kemampuan memilah informasi. Setiap hari kita menerima begitu banyak berita sehingga sulit membedakan mana fakta, mana opini, mana interpretasi, mana propaganda, dan mana sekadar konten yang sengaja dibuat agar kita bereaksi.
Ada fenomena lain yang semakin mudah kita temukan di ruang digital. Banyak orang tampak cerdas ketika berbicara, tetapi belum tentu bijaksana ketika menggunakan kecerdasannya. Mereka mampu menyusun argumen, mengutip data, menggunakan istilah ilmiah, bahkan menguasai berbagai referensi. Namun, kecerdasan tersebut kadang digunakan untuk memenangkan perdebatan, bukan untuk menemukan kebenaran.
Akhirnya, media sosial berubah menjadi arena pembuktian siapa yang paling benar. Tidak semua perdebatan menghasilkan pemahaman, ada perdebatan yang hanya menghasilkan kelelahan, diskusi yang tidak mencari kebenaran, melainkan mencari kemenangan.
Lalu bagaimana agar kita bertahan waras? Pertama, kurangi konsumsi yang menguras. Tidak berarti kita harus menutup diri dari dunia. Kita tetap perlu mengetahui apa yang terjadi. Tetapi kita perlu mengatur dosis. Kedua, periksa sebelum percaya, jangan biarkan emosi mendahului verifikasi. Jika sebuah berita membuat kita sangat marah, justru itulah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya: benarkah demikian?
Ketiga, jaga jarak dari percakapan yang destruktif. Bukan berarti kita membenci orangnya. Kita hanya memilih tidak ikut masuk ke dalam pola komunikasi yang terus-menerus menguras. Keempat, isi kembali toren batin. Olahraga, membaca, berkarya, berdiskusi dengan orang-orang yang sehat secara emosional, menikmati alam, beribadah, berdoa, bermeditasi atau melakukan refleksi spiritual, semuanya dapat menjadi cara untuk mengembalikan keseimbangan diri.
Kelima, perbanyak ruang yang menumbuhkan. Bergaullah dengan orang-orang yang membuat kita berpikir lebih jernih, bukan sekadar merasa lebih benar. Bertemu dengan orang yang berbeda pandangan tetapi tetap mampu saling menghormati adalah latihan intelektual sekaligus latihan kemanusiaan.
Waras bukan berarti tidak peduli, mungkin ini bagian terpenting dari semuanya. Menjaga diri dari energi negatif bukan berarti menjadi manusia yang tidak peduli terhadap keadaan. Justru sebaliknya, kita membutuhkan kejernihan agar kepedulian tidak berubah menjadi kemarahan. Kita membutuhkan ketenangan agar keberanian tidak berubah menjadi kebencian, membutuhkan pengetahuan agar kepedulian tidak dimanfaatkan oleh informasi palsu dan butuhkan kebijaksanaan agar suara kita tidak sekadar menambah kebisingan.
Sembilan bulan 2026 telah mengajarkan satu hal sederhana bahwa zaman semakin riuh, informasi semakin deras, algoritma semakin pintar membaca kebiasaan kita. Tetapi pada akhirnya, kita tetap bertanggung jawab atas apa yang kita izinkan tinggal di dalam diri kita.
Tugas kita adalah membangun sebuah ruang batin yang cukup jernih sehingga, di tengah begitu banyak suara, kita masih mampu mendengar suara hati, mampu membedakan yang benar dari yang sekadar ramai, memilih yang penting dari yang hanya menarik perhatian. “Saya tidak harus ikut dalam semua kegaduhan. Saya hanya perlu memastikan bahwa hidup saya tetap berada di jalan yang bernilai.” Waras adalah bentuk lain dari merdeka.(fsy)
