Mengapa ChatGPT AI Sering Salah Jawab? Apakah Ia Berpikir atau Hanya Menebak?

Iqbal
Iqbal - Bloggerpreneur
1.6k Views
21 Min Read

Tahukah kamu, ChatGPT tidak benar-benar berpikir — ia hanya menebak kata.

Banyak orang terkesima ketika bicara dengan ChatGPT openAI. Ia bisa menjawab pertanyaan dari hampir semua bidang — agama, sains, teknologi, sejarah, bahkan menulis puisi atau kode komputer dalam hitungan detik. Kalimatnya teratur, logis, bahkan kadang terasa punya emosi dan empati.

Karena itu, muncul anggapan:

ChatGPT ini pasti berpikir seperti manusia.
Ia tahu semua buku dan bisa mengutip dari mana saja.

Padahal kenyataannya jauh berbeda. Banyak pengguna baru sering mengira ChatGPT AI memahami makna sebenarnya, padahal sering kali chatgpt salah jawab karena hanya menebak pola bahasa, bukan memahami isi.

ChatGPT Terkadang Salah? Apakah Ia Berpikir atau Hanya Menebak

ChatGPT Tidak Berpikir, Ia Menebak

ChatGPT AI tidak berpikir, tidak tahu apa-apa, dan tidak mengerti makna kata-kata yang diucapkannya, sehingga wajar jika kadang muncul fenomena chatgpt salah jawab.

Ia hanya menebak teks berikutnya dan menyusun jawaban berdasarkan prediksi yang sangat presisi dari pola bahasa dan pengetahuan yang telah ia pelajari.

Mari kita intip “di balik layar” bagaimana chatGPT AI menyusun suatu kalimat. Bukan dengan pikiran, tapi dengan prediksi bertingkat (probabilistik rasional) — seperti mesin yang sedang menebak huruf, kata, lalu kalimat… dengan akurasi statistik.

Misal kita menulis pertanyaan ke chatGPT: > “Mengapa langit berwarna biru?”

Inilah “pengakuan” ChatGPT:

“Aku mulai menebak jawabannya. Bukan menalar, bukan merenung, hanya menghitung: kata apa yang paling mungkin muncul setelah kalimat itu.”

1. Mengenali Pola

Aku tidak “mengerti” secara sadar, tapi aku mengenali pola:

– Kata kunci “mengapa” → menjelaskan sebab.

– Langit berwarna biru” → fenomena alam, tema fisika/optik.

Dari ratusan juta contoh teks, aku tahu bahwa pertanyaan seperti ini biasanya dijawab dengan konsep “hamburan cahaya”, “atmosfer”, atau “spektrum cahaya”.

2. Mulai menebak kata pertama

Aku menghitung peluang: kata apa yang paling sering muncul sesudah pertanyaan seperti itu?

Beberapa kandidat muncul (dengan probabilitas perkiraan):

“Karena” → 0.73

“Sebab” → 0.12

“Hal ini disebabkan oleh” → 0.09

lainnya < 0.05

Maka tebakanku jatuh ke kata “Karena”.

 3. Lalu menebak kata berikutnya

Setelah “Karena”, aku menebak lagi, mana yang paling mungkin?

“cahaya” → 0.41

“atmosfer” → 0.27

“bumi” → 0.13

lainnya < 0.10

Aku pilih “cahaya”.

Lalu setelah “Karena cahaya”, aku lanjut prediksi lagi:

“matahari” → 0.64

“tersebar” → 0.18

“yang masuk” → 0.09

Aku pilih matahari.

Dan begitu seterusnya — tebakan demi tebakan, hingga kalimat lengkap terbentuk:

Karena cahaya matahari tersebar oleh molekul-molekul udara di atmosfer, dan warna biru tersebar lebih kuat daripada warna lainnya.”

4. Baru setelah itu, aku menyesuaikan gaya

Setelah inti jawaban terbentuk, aku menyesuaikan dengan gaya tanya kamu: formal, santai, ilmiah, dsb.

Kalau kalinat pertanyaannya:  “kenapa sih langit biru?” maka akan dipilih versi santai seperti:

“Soalnya cahaya biru dari matahari lebih gampang nyebar di udara.”

Begitulah aku bekerja: tidak memahami seperti manusia, tapi menebak dengan presisi matematis. Inilah yang menjadi alasan mengapa chatgpt sering salah dalam memberikan konteks, meskipun penjelasannya tampak masuk akal bagi pembaca awam.

Kalimat yang tampak “cerdas” sebenarnya lahir dari jutaan probabilitas yang saling berlomba.

Seolah Tampak “Berpikir Logis”

Banyak orang heran:

Kalau ChatGPT cuma menebak kata, kenapa bisa menjawab dengan logika dan argumen yang masuk akal?

Pertanyaan ini wajar — karena memang hasilnya sering terlihat seperti “pikiran”. Namun yang sebenarnya terjadi bukanlah penalaran sadar, melainkan peniruan pola berpikir manusia yang dipelajari dari data dalam jumlah yang sangat besar.

1. Tidak memahami logika — tapi meniru polanya

Dalam proses pelatihannya, ChatGPT membaca jutaan contoh teks berisi penjelasan, argumen, sebab-akibat, dan kesimpulan. Dari situ ia mengenali pola bahwa kalimat yang logis biasanya disusun dalam bentuk:

premis → alasan → kesimpulan.

Jadi ketika ia menjawab pertanyaan baru, model ini tidak “memahami” isi logika tersebut, melainkan meniru pola kalimat logis yang sering muncul dalam data pelatihannya.

2. Penalaran muncul sebagai efek dari prediksi

ChatGPT tidak berpikir secara deduktif seperti manusia, melainkan memilih kata berikutnya berdasarkan kemungkinan terbesar yang masuk akal secara konteks.

Contohnya:

Semua manusia akan mati. Socrates adalah manusia. Jadi Socrates …

Secara statistik, kata yang paling sering muncul setelah pola seperti itu adalah “akan mati”. Maka ia memilih kata itu — bukan karena memahami makna kalimatnya, tetapi karena secara probabilistik itulah kelanjutan yang paling tepat.

Logika muncul bukan karena pemikiran, melainkan karena kebetulan statistik yang konsisten dengan logika manusia.

3. Konteks dikelola dalam bentuk angka

Setiap kata diubah menjadi vektor angka, semacam koordinat dalam ruang makna multidimensi. Kata air, basah, dan hujan misalnya, akan berada di titik-titik yang saling berdekatan. Ketika menulis kalimat panjang, semua kata itu membentuk peta makna digital.

Saat menebak kata berikutnya, model hanya memilih titik yang paling pas di peta tersebut. Karena hubungan antar-maknanya diatur dengan sangat teliti, hasilnya tampak seperti pemahaman konteks, padahal itu hanyalah perhitungan jarak antar-makna.

4. Dari pola kebiasaan menjadi kesan “pemikiran”

Pelatihan ChatGPT menggunakan triliunan kata dari buku, jurnal, percakapan, debat, hingga karya ilmiah. Semua itu berisi cara manusia berpikir dan berargumen.

Maka ketika model menyusun kalimat baru, ia bisa menggabungkan potongan-potongan pola logika itu menjadi jawaban yang tampak cerdas dan rasional.

Sebenarnya, di balik layar tidak ada “kesadaran” atau “pemahaman”, hanya matematika kebiasaan bahasa manusia yang diulang dengan sangat akurat.

Belajar dari Pola Bahasa Dunia

Bagaimana angka-angka probabilitas itu disusun? Yang pasti, angka-angka itu tidak muncul acak sama sekali. Mereka dihitung dengan dasar yang sangat kuat secara matematis dan statistik.

 1. Dasarnya: statistik dari teks nyata

Model seperti GPT-5 dilatih dari triliunan kata dari buku, artikel, situs web, dan tulisan manusia lainnya. Dari situ ia “belajar” (lebih tepatnya: mengestimasi pola) seberapa sering satu kata muncul setelah kata atau urutan kata tertentu. Ia belajar pola hubungan antar kata.

Misalnya, dalam teks manusia:

“Karena cahaya” → sering diikuti “matahari”

“Langit berwarna” → sering diikuti “biru”

“Rasa sakit” → sering diikuti “itu” atau “di dada”

Contohnya:

P(matahari | karena cahaya) = 0.64
artinya: dari semua teks yang memuat “karena cahaya”, sekitar 64% dilanjutkan dengan “matahari”.

Dari data inilah chatgpt membentuk statistik hubungan antar kata, atau disebut conditional probabilities — probabilitas bersyarat.

2. Struktur penyusunnya: Neural network (transformer)

ChatGPT AI tidak menyimpan angka-angka itu secara manual seperti tabel kamus raksasa, tetapi ia menggunakan transformer neural network dengan miliaran parameter — inilah dasar kerja sistem yang sering membuat chatgpt salah jawab ketika konteksnya tidak tepat.

Setiap “parameter” ini adalah hasil pelatihan yang mencoba meminimalkan kesalahan prediksi terhadap teks nyata.

Ketika GPT membaca urutan kata, jaringannya akan menghitung hubungan matematis di antara kata-kata itu, lalu menghasilkan vektor numerik — representasi makna kata secara kontekstual.

3. Dari vektor ke probabilitas

Untuk menebak, model akan mengubah setiap kata menjadi angka (vektor). Angka-angka ini mewakili posisi kata dalam ruang makna.

Neural network kemudian menghitung skor untuk semua kata dalam kamus (misalnya 100 ribu kata). Skor itu kemudian dinormalisasi dengan rumus softmax, menghasilkan angka antara 0 dan 1 — yaitu probabilitas tiap kata menjadi kelanjutan berikutnya.

Contoh hasil internal (disederhanakan):

Kata kandidatSkor mentahProbabilitas akhir
matahari8.30.64
atmosfer7.10.22
bumi6.00.09
lainnya0.05

Maka kata dengan probabilitas yang tertinggi — matahari — akan dipilih.

Namun terkadang sistem juga akan memilih opsi kedua atau ketiga agar hasilnya tidak terlalu kaku.
Proses ini berlangsung jutaan kali setiap kali ia menjawab.

4.  Juga bergantung pada konteks

Kalimat-kalimat yang sudah dihasilkan sebelumnya juga akan mengubah konteksnya.

Misal ketika kita baru saja membahas “warna pelangi”, maka probabilitas kata berikutnya bisa saja bergeser:

Karena cahaya matahari…” angka probabilitasnya turun sedikit,

sedang … “Karena pembiasan cahaya…” naik angkanya.

Jadi probabilitas selalu dinamis dan disesuaikan dengan konteks percakapan.

5. Jadi bukan tebakan acak — tapi hasil “pelajaran”

Angka-angka itu adalah hasil dari:

– Statistik nyata dari teks manusia.

– Optimisasi matematis (gradien dan backpropagation).

– Normalisasi ke dalam bentuk probabilitas.

– Penyesuaian kontekstual secara real-time.

Itulah kenapa hasilnya terasa “masuk akal” — karena chatgpt secara harfiah menyerap pola berpikir dan menulis manusia dalam bentuk matematis.

Namun di sisi lain, pendekatan ini juga menjelaskan kenapa chatgpt salah jawab bisa terjadi pada topik-topik spesifik yang tidak umum muncul dalam data pelatihannya.

Tapi terkadang tebakan itu salah

Manusia berpikir dengan kesadaran, tujuan, dan makna. Kita paham kenapa sesuatu benar atau salah, dan kita punya niat ketika menjawab.

Tapi ChatGPT AI tidak punya semua itu. Ia tidak tahu mana benar atau salah — hal ini yang membuat chatgpt salah jawab menjadi hal yang wajar terjadi.

Ia hanya menyusun urutan kata yang secara statistik paling mungkin benar.

Inilah alasan kenapa ChatGPT AI bisa memberi jawaban yang terdengar meyakinkan, padahal chatgpt sering salah atau bahkan memberi respon yang tidak akurat sama sekali.

Fenomena ini dikenal dengan istilah hallucination — model membuat jawaban yang tampak masuk akal, tapi faktanya tidak akurat.

Istilah chatgpt salah jawab sering digunakan pengguna internet untuk menggambarkan halusinasi semacam ini yang muncul pada ChatGPT AI.

Mengapa Jawabannya Bisa Berbeda untuk Pertanyaan Sama

Pernah kan mengalami hal ini: menanyakan hal yang sama dua kali, tapi kok jawabannya berbeda dengan yang pertama.

Itu bukan karena ChatGPT berubah pikiran. Ia tidak punya pikiran untuk diubah.

Yang terjadi adalah:

– Ada elemen acak (random) dalam proses menebak, agar jawabannya tidak selalu identik.

– Konteks percakapan sebelumnya bisa memengaruhi hasil tebakan.

– Versi model atau parameter yang berbeda bisa menghasilkan gaya jawaban yang berbeda.

Semuanya murni efek matematika — bukan kesadaran.

Sebuah Ilustrasi

Bayangkan ada seorang penyalin tua bernama GPT yang hidup di perpustakaan besar berisi jutaan buku.
Ia tidak paham isi buku-buku itu, tapi ia sangat hafal bagaimana kata-kata biasanya tersusun.

Setiap kali kamu bertanya, ia membuka kembali tumpukan ingatannya dan menulis jawaban baru dengan menebak kata demi kata berdasarkan pola yang pernah ia lihat.

Kalimatnya mungkin terdengar seperti hasil pemikiran mendalam, padahal ia hanya mengikuti kebiasaan bahasa manusia yang terekam di kepalanya.

Mengapa Kutipan Juga Tidak Selalu Benar

Inilah bagian yang sering disalahpahami oleh banyak orang. Ketika ChatGPT menulis jawaban dengan menyebut sumber atau mengutip teks, banyak orang mengira:

Oh, berarti itu benar-benar diambil dari buku atau kitab aslinya.

Padahal belum tentu. Kenapa?

1.  ChatGPT Tidak Membaca Buku Asli Secara Langsung

ChatGPT tidak memiliki akses ke buku, situs, atau database tertentu saat kamu berbicara dengannya. Ia tidak bisa “membuka halaman kitab” atau “melihat PDF.” Semua yang ia tahu berasal dari pola teks yang pernah muncul di data pelatihannya.

Ketika kamu meminta kutipan dari kitab atau buku, ia akan menebak kutipan itu berdasarkan pola yang mirip — seperti gaya bahasa kitab, nama tokoh, atau kalimat yang sering dikaitkan dengan sumber tersebut.

Jika pola itu kuat dan umum, hasilnya bisa sangat mirip dengan teks aslinya. Tapi jika tidak, ia bisa menciptakan kutipan palsu.

Contoh:

Kamu bertanya: Apa bunyi hadis tentang menuntut ilmu?
ChatGPT menjawab: Carilah ilmu sampai ke negeri Cina.

Kalimat itu sangat terkenal dan sering dikaitkan dengan hadis, tapi sebagian ulama menilai hadis itu lemah bahkan tidak sahih.

ChatGPT tidak tahu itu — ia hanya melihat bahwa pola kalimat itu sering muncul bersama kata “hadis menuntut ilmu.” Jadi ia menebak bahwa itulah jawabannya.

2.  Kutipan Bisa “Terlihat Benar” Karena Pola Bahasa

Model ini sangat pandai meniru gaya tulisan kitab, jurnal, atau berita. Ia tahu seperti apa kalimat formal, akademik, atau religius. Sehingga ketika ia menulis kutipan palsu, hasilnya tetap tampak rapi dan meyakinkan.

Misalnya:

Dalam buku al-Masa’il al-Fiqhiyyah, halaman 72 disebutkan bahwa….

Padahal buku itu mungkin tidak pernah ada. GPT hanya meniru struktur kalimat yang “terdengar seperti kutipan ilmiah.”

3.  Mengapa Ini Bisa Terjadi

Karena GPT tidak punya verifikasi realitas.

Ia tidak mengecek kebenaran ke sumber, tidak membuka database, dan tidak bisa membedakan antara teks nyata dan teks yang ia ciptakan sendiri.

Ia hanya tahu: kalimat seperti ini sering muncul, jadi saya tulis lagi seperti itu.

Jadi, meskipun formatnya seperti kutipan, tidak ada jaminan bahwa teks itu benar-benar eksis di sumber yang disebut.

4.  Bagaimana Cara GPT “Menebak” Kutipan

Ketika kamu menulis:

Tolong kutipkan ayat dari kitab X tentang Y

GPT akan melakukan langkah seperti ini (secara sederhana):

– Mencari pola kalimat yang mirip di memori bahasanya.

– Mengidentifikasi gaya tulisan kitab atau ayat yang diminta.

– Menyusun kalimat baru yang “terasa” seperti berasal dari sumber itu.

Tidak ada proses “membuka file” atau “mengambil teks asli.”
Semua dibentuk dari perkiraan berdasarkan kemiripan pola.

Jadi, ketika kamu membaca hasil kutipan dari ChatGPT, anggap itu sebagai prediksi gaya dan isi — bukan kutipan pasti dari sumber yang sahih.

5.  Mengapa Orang Mudah Terkecoh

Karena hasil tulisannya sangat rapi, lengkap dengan nama kitab, bab, dan nomor halaman, orang awam mudah mengira GPT benar-benar “tahu.”

Padahal, model hanya menyusun kalimat seperti:

Dalam kitab Tawdīḥ al-Masā’il, masalah 137 disebutkan bahwa…

Ia bisa menulis begitu meskipun tidak pernah “melihat” kitab itu. Kalimat itu hanya muncul karena struktur semacam itu sering ditemukan di data pelatihan teks-teks keagamaan.

Fenomena ini disebut confident error — kesalahan yang diucapkan dengan penuh keyakinan.
GPT tidak tahu dirinya salah, dan tetap berbicara dengan nada yakin karena ia hanya mengikuti pola.

Kesalahan-Kesalahan Umum

Beberapa kesalahan khas dari GPT:

Jenis KesalahanPenjelasan
Halusinasi FaktaMengarang nama kitab, ayat, atau sumber yang tampak meyakinkan.
Kutipan SalahMengubah redaksi sumber tanpa sadar.
KetidakkonsistenanMemberi jawaban berbeda pada pertanyaan yang sama.
Kelemahan LogikaMenyimpulkan sesuatu secara terbalik atau keliru.

Kesalahan-kesalahan ini bukan karena ia “berbohong,”
tapi karena ia memang tidak tahu apa itu benar atau salah.

Jadi Bagaimana Seharusnya

1.  Gunakan Mode “Search”

Ini strategi yang cukup penting lho.

Ketika ChatGPT menjawab pertanyaan atau mengutip sesuatu — misalnya isi kitab, buku, atau berita — semua itu kan pada dasarnya hasil prediksi teks, bukan hasil pencarian langsung. Makanya kadang salah bahkan menyesatkan, terutama ketika bicara data, fakta ataupun kutipan. Terlihat meyakinkan, tetapi tidak sesuai dengan fakta atau sumber asli.

Nah ada cara yang lebih aman dan akurat, yaitu menggunakan mode “search” (pencarian web langsung).

Dalam mode ini, ChatGPT tidak lagi “menebak” dari ingatan pelatihannya, tetapi benar-benar mengakses sumber aktual di internet untuk memastikan kutipan atau data yang diberikan sesuai dengan teks aslinya.

Contohnya, jika pengguna meminta ChatGPT untuk menampilkan isi hadits dari kitab Sahih Bukhari, maka dalam mode biasa ChatGPT mungkin akan menebak bunyinya berdasarkan pola teks yang pernah ia pelajari.

Tapi dalam mode “search”, ia akan menampilkan hasil dari situs rujukan yang kredibel, lengkap dengan tautannya. Dengan begitu, pengguna dapat memverifikasi langsung kebenaran sumbernya.

Inilah mengapa penggunaan mode “search” dianggap cara yang lebih bertanggung jawab dan transparan, terutama bila kita ingin mengutip teks-teks penting seperti ayat suci, hadits, atau dokumen akademik.

Singkatnya, mode prediktif berguna untuk menjelaskan, sedangkan mode pencarian (search) berguna untuk memastikan kebenaran.

Dua-duanya saling melengkapi — asal pengguna tahu kapan dan untuk tujuan apa masing-masing digunakan.

2. Gunakan GPT sebagai Asisten Bahasa, Bukan Sumber Kebenaran

GPT unggul dalam menjelaskan konsep, merangkum tulisan, atau membantu memahami struktur kalimat.
Tapi untuk hal yang bersifat faktual — terutama kutipan kitab, hadis, hukum, atau data ilmiah — hasilnya harus diverifikasi manusia.

Jangan mempercayai 100% jawaban-jawabannya, terutama sekali ketika konsultasi masalah kesehatan, hukum, agama, dan topik lainnya yang memerlukan verifikasi dan justifikasi.

Gunakan GPT untuk membantu mencari arah atau merumuskan ulang, tapi jangan menjadikan jawabannya sebagai bukti kebenaran tanpa sumber yang bisa dicek.  Pendekatan kritis seperti ini penting karena chatgpt sering salah dalam memberikan kutipan atau fakta yang tidak diverifikasi.

3.  Pilihan Lebih Akurat: Gunakan CustomGPT

Selain mode search, ada juga versi lain dari ChatGPT yang disebut CustomGPT.

Perbedaannya, CustomGPT bisa diberi “file pengetahuan” (knowledge file) oleh penggunanya — misalnya buku digital, dokumen penelitian, atau kumpulan teks tertentu.

Dengan begitu, ketika CustomGPT menjawab atau mengutip sesuatu, ia tidak lagi menebak berdasarkan pola bahasa umum, melainkan mengambil langsung dari isi file yang telah diunggah.

Misalnya, jika seseorang membuat CustomGPT yang diberi file Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, maka setiap kali ditanya tentang hadits tertentu, ia bisa menampilkan teks dan terjemahan sesuai sumber yang benar-benar ada dalam file tersebut.

Inilah mengapa CustomGPT sering disebut sebagai versi yang lebih presisi: ia tidak hanya “menebak kata”, tapi mengacu pada pengetahuan yang nyata dan spesifik.

Fungsinya sangat membantu untuk pekerjaan akademik, riset, atau studi teks keagamaan — selama file referensinya memang valid dan kredibel.

Tetap Berguna …

Yang perlu kita sadari, asisten AI seperti chatGPT, grok, gemini, claude dll itu, mereka hidup di dunia kata, bukan dunia nyata. Ia tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengalami.

Segala sesuatu yang ia tahu hanyalah bentuk bahasa dari dunia nyata. Ia mengenal “langit biru” bukan karena melihat langit, tapi karena membaca banyak kalimat yang mengatakan “langit berwarna biru.”

Tapi meski GPT ini ternyata memang tidak bisa berpikir, dan cara kerjanya hanya menebak-nebak teks, ChatGPT atau “mesin-mesin” asisten AI lainnya tetap sangat berguna untuk berbagai tujuan kita, karena:

  • Ia memahami pola bahasa manusia dengan presisi tinggi.
  • Ia bisa menjawab dengan cepat dan rapi.
  • Ia bisa menjelaskan hal kompleks dengan bahasa sederhana.
  • Ia membantu orang menulis, belajar, dan berlatih berpikir lebih teratur.

Ia memang tidak mampu menggantikan pemikiran manusia, tapi ChatGPT AI tetap bisa menjadi alat bantu kita dalam berpikir dan menyelesaikan pekerjaan, meskipun kadang chatgpt sering salah dalam menafsirkan konteks tertentu.

Bagaimana menurut Anda?

🧠 Artikel lain yang juga penting dibaca:

AI Sekarang Bukan Cuma Bisa Ngomong, Tapi Juga Bisa Bertindak Layaknya Manusia

___________
Catatan Penulis:
Artikel ini ditulis dengan bantuan penulisan oleh chatGPT, dengan arahan substansi, gaya tulisan, desain alur, koreksi dan kurasi manual oleh penulis.

 

 

Tentang Penulis

Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us