Banyak orang masih kurang waspada menjaga data pribadinya. Padahal, kebocoran data pribadi bisa jadi pintu masuk bagi berbagai kejahatan siber.

Coba ketik kata “NIK” atau “Kartu Keluarga” di Google Images. Anda akan terkejut melihat betapa banyak foto dokumen berisi data pribadi yang tampaknya diunggah tanpa sadar oleh pemiliknya sendiri.
Padahal, risiko dari kebocoran ini sangat besar. Dengan informasi seperti NIK dan KK, pelaku kejahatan bisa mendaftarkan nomor HP baru atas nama Anda. Nomor itu kemudian bisa digunakan untuk melakukan penipuan atau kejahatan lain, lalu Anda nanti yang bakal menanggung akibatnya.
Lebih parah lagi, di Kartu Keluarga terdapat nama ibu kandung, yang sering dipakai bank atau aplikasi digital sebagai pertanyaan rahasia untuk verifikasi identitas. Kalau data ini jatuh ke tangan yang salah, mereka bisa masuk ke akun keuangan Anda tanpa perlu membobol password.
Itu baru satu jenis data. Bayangkan jika data lain—alamat email, foto KTP selfie, riwayat transaksi, data medis, riwayat pendidikan, atau lokasi harian Anda—juga ikut bocor.
Tanggal lahir & alamat email bisa dimanfaatkan untuk menebak kata sandi atau melakukan serangan phishing yang terlihat meyakinkan.
Foto KTP selfie, yang sering diminta oleh aplikasi pinjaman online atau fintech, bisa digunakan untuk membuat rekening atau pinjaman ilegal atas nama Anda.
Karena itu, penting untuk memahami, mengendalikan, dan membatasi data yang Anda bagikan di internet.
1. Pahami Data Apa yang Anda Berikan
Banyak orang langsung klik “Izinkan” saat aplikasi meminta akses data, tanpa membaca izinnya. Ini ibarat memberikan kunci rumah kepada orang yang belum kita kenal.
Baca izin akses data yang diminta (lokasi, kontak, file)
Aplikasi yang terlihat sederhana kadang meminta akses yang nggak masuk akal. Misalnya, aplikasi minta izin membaca daftar kontak Anda atau mengakses lokasi Anda. Padahal fungsi aplikasi misalnya tidak berhubungannya dengan data itu. Ini bisa menjadi tanda aplikasi tersebut mengumpulkan data Anda untuk dijual atau digunakan untuk iklan yang sangat menarget.
Hindari memberikan data yang tidak relevan dengan tujuan layanan
Semakin banyak data yang Anda serahkan, semakin lengkap “profil digital” Anda di tangan pihak luar. Jika terjadi kebocoran, data tersebut bisa dipakai untuk memalsukan identitas atau menargetkan penipuan yang lebih canggih.
Gunakan data minimum saat mendaftar
Misalnya, buat email khusus untuk akun pendaftaran. Jika email ini nantinya dipakai untuk spam atau dicuri, akun-akun pribadi Anda tetap aman.
2. Periksa Pengaturan Privasi Aplikasi
Hampir semua platform—Google, Facebook, Instagram—mengumpulkan data Anda secara otomatis. Tapi mereka juga memberi opsi untuk membatasi pengumpulan itu. Masalahnya, banyak pengguna tidak pernah memeriksa atau mengubah pengaturannya.
Atur privacy settings untuk membatasi pengumpulan data
Perusahaan teknologi besar biasanya mengumpulkan data sebanyak mungkin agar iklan yang mereka tampilkan sangat sesuai dengan kebiasaan Anda. Jika Anda tidak membatasi, mereka bisa tahu situs apa yang Anda kunjungi, video apa yang Anda tonton, bahkan pola belanja Anda.
Nonaktifkan location tracking jika tidak diperlukan
Pelacakan lokasi bisa membuat orang lain mengetahui rutinitas Anda, seperti jam berangkat kerja, lokasi rumah, atau tempat nongkrong favorit. Data ini sangat berharga di tangan pengiklan, tapi juga berbahaya jika jatuh ke penjahat.
Matikan izin akses kamera/mikrofon saat tidak digunakan
Kamera dan mikrofon bisa menjadi “mata dan telinga” bagi aplikasi berbahaya atau peretas. Dengan mematikan izin ini, Anda menutup kemungkinan perangkat Anda dimata-matai tanpa disadari.
3. Gunakan Layanan yang Memprioritaskan Perlindungan Data
Tidak semua aplikasi punya standar keamanan yang sama. Beberapa negara punya hukum ketat soal privasi, sementara yang lain sangat longgar.
Pilih aplikasi dengan server di negara yang punya regulasi privasi kuat
Negara dengan undang-undang privasi yang ketat biasanya mewajibkan perusahaan melindungi data pengguna dengan standar tinggi, dan memberi sanksi berat jika lalai.
Pastikan kebijakan privasi jelas dan sesuai UU PDP
Kebijakan privasi yang baik menjelaskan dengan bahasa sederhana: data apa yang dikumpulkan, untuk apa digunakan, dan siapa yang bisa mengaksesnya. Jika kebijakannya kabur atau terlalu teknis, itu bisa jadi tanda bahaya.
4. Kenali Hak Anda
Undang-undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP No 27 tahun 2022) telah memberi Anda kendali penuh atas data pribadi.
Anda berhak:
- Meminta penjelasan bagaimana data Anda dikumpulkan, disimpan, dan dipakai.
- Meminta penghapusan data yang tidak relevan atau yang dipakai tanpa izin.
- Menarik kembali persetujuan pemrosesan data kapan pun.
- Menolak jika data digunakan untuk profiling otomatis yang mempengaruhi keputusan penting (misalnya persetujuan pinjaman).
Jika data Anda disalahgunakan, laporkan ke Kementerian Kominfo lewat aduankonten.id atau langsung ke aparat penegak hukum.
5. Periksa Privasi Akun Google dan Media Sosial
Akun Google dan media sosial menyimpan rekam jejak digital yang luar biasa detail. Jika pengaturan privasi tidak Anda kelola, dampaknya bisa serius:
- Iklan akan mengikuti Anda ke mana-mana berdasarkan kebiasaan online Anda
- Data aktivitas Anda bisa dipakai untuk membentuk “profil digital” yang akurat, termasuk minat, kebiasaan belanja, bahkan pandangan politik
- Informasi pribadi seperti lokasi, foto, atau daftar teman bisa dimanfaatkan penipu untuk rekayasa sosial (social engineering) atau pencurian identitas
Pengaturan Privasi di Google
Web & App Activity
Risiko: Semua pencarian, situs yang dibuka, hingga aplikasi yang digunakan akan direkam. Jika akun diretas, riwayat ini bisa membongkar pola pikir dan minat Anda.
Saran: Nonaktifkan atau gunakan auto-delete 3 bulan.
Location History
Risiko: Lokasi rumah, kantor, dan tempat favorit anda terekam dengan detail. Data ini bisa dipakai untuk memantau pergerakan Anda.
Saran: Nonaktifkan jika tidak diperlukan.
YouTube History
Risiko: Minat, pandangan politik, atau kondisi pribadi Anda bisa terungkap dari video yang ditonton.
Saran: Nonaktifkan atau hapus otomatis 3 bulan sekali.
Personalisasi Iklan
Risiko: Data lintas aplikasi/situs dipakai untuk membuat iklan yang sangat tertarget, mengurangi privasi Anda.
Saran: Nonaktifkan.
Akses Aplikasi Pihak Ketiga

Risiko: Aplikasi yang sudah tidak digunakan tetap bisa mengambil data.
Saran: Hapus akses yang tidak diperlukan.
Kontrol File & Foto
Risiko: File sensitif di Drive atau Photos bisa diakses publik tanpa sengaja.
Saran: Periksa link sharing secara berkala.
Voice & Audio Recording
Risiko: Rekaman suara bisa disimpan dan dianalisis untuk melatih AI atau profil perilaku Anda.
Saran: Nonaktifkan.
Password Manager & Security Checkup
Risiko: Kata sandi lemah atau yang sudah bocor tidak terdeteksi.
Saran: Gunakan pengelola kata sandi dan jalankan pemeriksaan keamanan rutin.
Two-Factor Authentication (2FA)
Risiko: Kata sandi yang bocor bisa langsung dipakai untuk membajak akun.
Saran: Aktifkan 2FA.
Pengaturan Privasi Sosmed
Selain Google, media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok juga menyimpan dan membagikan banyak informasi pribadi penggunanya—sering kali tanpa disadari oleh pemilik akun.
Jika pengaturan privasi tidak dikelola dengan baik, data tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, mulai dari sekadar penargetan iklan agresif hingga penipuan dan pencurian identitas.
Privasi Facebook
Di Facebook, jika privasi Anda terbuka, maka orang asing yang tak anda kenal dapat melihat daftar teman-teman Anda, lalu memetakan hubungan sosial Anda, atau bahkan memanfaatkan foto Anda untuk penipuan.
Sangat banyak bahkan informasi publik Anda ini digunakan untuk membuat akun palsu (impersonation) yang menyerupai akun FB Anda untuk kemudian bertindak seolah-olah itu adalah Anda. Targetnya bisa jadi teman-teman Anda.
Untuk mencegahnya, Anda tentu perlu membatasi siapa yang dapat melihat postingan Anda, daftar teman Anda, dan informasi pribadi di profil Anda.
Jika mau melakukannya, Anda bisa masuk ke halaman pertemanan Anda lalu klik “Edit Privasi”.

Setelah itu Anda atur sesuai kebijakan privasi Anda. Berikut ini contoh jika daftar pertemanan, tertutup untuk publik. Hanya Anda yang bisa melihat siapa teman-teman Anda.

Selain itu, matikan fitur Face Recognition agar foto Anda tidak otomatis ditandai oleh sistem, dan periksa bagian Apps and Websites untuk menghapus aplikasi pihak ketiga yang sudah tidak digunakan.
Privasi Instagram
Di akun instagram juga sama, risiko serupa juga mengintai, terutama jika akun Anda bersifat publik. Foto dan lokasi yang Anda unggah dapat dipantau oleh orang asing, bahkan digunakan untuk stalking atau pencurian identitas.
Untuk melindungi diri, ubah akun IG Anda menjadi Private Account sehingga hanya pengikut yang Anda setujui yang dapat melihat konten Anda.
Juga sebaiknya matikan Activity Status agar orang lain tidak mengetahui kapan Anda sedang aktif, dan nonaktifkan Location Tagging pada foto maupun video untuk menghindari pengungkapan lokasi secara tidak sengaja.
Privasi Tiktok
TikTok juga memiliki tantangan privasi tersendiri. Jika pengaturan privasi terlalu longgar, video Anda bisa diunduh dan disebarkan tanpa izin.
Lebih dari itu, algoritma TikTok dapat membangun profil perilaku yang sangat detail berdasarkan kebiasaan menonton dan interaksi Anda di aplikasi.
Untuk meminimalkan risiko, aktifkan Private Account sehingga hanya pengikut yang disetujui yang bisa melihat video Anda. Matikan opsi Suggest Your Account to Others jika tidak ingin akun Anda direkomendasikan secara publik, dan batasi siapa yang dapat mengirim pesan, memberi komentar, atau melakukan duet dengan video Anda.
Singkatnya, setiap media sosial memiliki celah privasi masing-masing. Dengan mengatur pengaturan privasi secara cermat, Anda dapat menjaga kendali atas informasi yang dibagikan dan mengurangi risiko penyalahgunaan data pribadi.
Sudahkah Anda mencobanya?
