Percobaan Imaginer Melihat Alam “Ghaib”

Mari kita lakukan eksperimen khayal melihat elektron! Anggap kita punya mikroskop elektron dgn pembesaran 1000 trilyun kali yang secara teoritis pasti sanggup menembus elektron. Tapi, apa yang terjadi?

Iqbal
Iqbal - Bloggerpreneur
821 Views
9 Min Read
Ilustrasi Oleh: Google AI-Studio

Para ilmuwan semakin yakin, detail paling halus dalam kosmos memang diliputi kekaburan.

Seolah ada tirai pembatas antara pengetahuan manusia dengan hakikat semesta. Ilmu pengetahuan semakin terbukti tak sanggup menembus dunia di balik batas itu. Bukan apa-apa, memang begitulah cara alam memperlihatkan dirinya pada manusia …!

Dalam konsep ilmu pengetahuan modern dewasa ini, alam semesta dengan segala isinya tersusun dari materi dan energi. Materi (benda) tersusun pula atas partikel-partikel halus yang lazim disebut atom. Sedangkan atom, terbagi pula atas sebuah inti atom bersama sejumlah elektron pada jarak yang relatif jauh.

Sebetulnya istilah-istilah atom, proton, dan sebagainya, semua hanyalah “model”.

Artinya nama-nama tersebut dikaitkan dengan suatu gejala tertentu, sedemikian rupa sehingga dengan model itu para ilmuwan akan lebih mudah bekerja.

Sebab itu “model” atom bisa bermacam-macam. Dalam sejarah fisika atom, dikenal model-model atom mulai dari Dalton, Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan sebagainya.

Jadi pernahkah para ilmuwan melihat elektron? Gelombang? Cahaya? Tidak pernah! Ia bahkan tidak akan pernah tahu apa persisnya semua itu.

Thomson misalnya: sekalipun dikatakan sebagai penemu elektron, ia sebetulnya tidak pernah tahu seperti apa “wujud” elektron itu. Yang dia lakukan adalah membuat eksperimen lalu memperhatikan gejala-gejala atau sifat-sifat hasil eksperimennya. Kemudian disusunlah konsep yang bisa menerangkan gejala tersebut.

Lantas, apabila konsep tersebut ternyata gagal, yang salah tentu bukan fenomena atau gejalanya … tapi konsep itulah yang perlu disempurnakan.

Namun, baiklah, mari kita coba-coba melakukan eksperimen khayal. Istilahnya “Gedunken Experiment” alias eksperimen dalam pikiran. Tujuan kita adalah hendak melihat materi yang amat sangat kecil, yaitu elektron.

Anggaplah kita mempunyai semua peralatan yang dibutuhkan. Kita perkirakan ada sebuah mikroskop elektron yang sangat luar biasa. Daya uraiannya akan sanggup menembus “kabut atomik”.

Ditunjang lagi dengan daya pembesaran mencapai 1000 trilyun kali! Memang dengan perbesaran begitu, secara teoritis dapat diramalkan elektron akan terlihat oleh mata.

Akan tetapi, apa yang terjadi?

Ternyata tak semudah apa yang dibayangkan.

Masalahnya begini. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya kita bisa melihat karena pertolongan cahaya visual (kasat mata). Cahaya ini mempunyai panjang gelombang antara 3800 angstrom sampai 7500 angstrom; dimana 1 angstrom = 10-8 cm.

Padahal kita tahu elektron jauh lebih kecil dari itu. Diameternya sepertiga milyar milimeter. Tentu akibatnya elektron tersebut malah “tertutupi”.

Ibarat mau melihat bola, lalu bola itu kita tutup dengan sehelai kain hitam yang panjang. Jadi mana mungkin akan terlihat!

Apa akal?

Terpaksa kita cari cahaya lain. Tapi panjang gelombangnya mesti yang lebih pendek dari diameter (garis tengah) elektron.

Namun resikonya, kita terpaksa melihat bukan dengan mata. Sebab mata hanya mampu bekerja pada rentang gelombang optis (cahaya tampak).

Baiklah kita gunakan saja alat detektor supercanggih, berfungsi laksana “mata”.

Ternyata kesulitan tetap saja tak teratasi. Kalau kita pakai sinar-X, panjang gelombangnya masih sedikit besar ketimbang elektron. Yah … akhirnya elektron tak akan kelihatan juga.

Terpaksa kita ganti dengan sinar lain. Akhirnya satu-satunya pilihan cuma sinar gamma.

Sinar itu dipancarkan oleh radium hingga sering disebut sinar radium. Sinar ini memiliki frekuensi yang sangat tinggi. Itu berarti energinya pun sangat tinggi.

Namun, apa yang terjadi sewaktu pas alat detektor kita corongkan ke lensa supermikroskop? Bentuk apakah yang terlihat jauh di kedalaman sana?

Tidak! Kita tak menemukan apa-apa!

Lho … koq bisa? Bukankah tadi elektron masih ada? Kenapa tiba-tiba bisa lenyap tanpa jejak begitu saja? Apa yang telah terjadi?

Ya … sewaktu sinar gamma datang menghampiri elektron, ternyata elektron malah tidak sanggup memantulkan sinar itu kembali ke mata detektor.

Ia tak sanggup menahan hantaman sinar gamma berenergi sangat tinggi itu.

Elektron malah terhambur, terpental entah ke mana. Kecepatan gerak elektron jadi luar biasa.

Tentu saja … detektor tak akan sanggup mencari “di mana dia”!

BATAS PENGETAHUAN

Persisnya elektron, tak berposisi sama sekali. Usaha untuk menemukan elektron saja menendangnya ke luar lapangan pengamatan.

Usaha menemukan tempatnya, baik dilakukan secara eksperimen atau cuma dikhayalkan saja, sama persis dengan memberinya kecepatan serta arah yang tidak dapat diketahui.

Mustahil bisa ditentukan kedudukannya dalam ruang dan waktu.

Dilematika yang ditimbulkan oleh sebutir elektron pada indera manusia ini, langsung ditangani oleh ahli fisika kuantum, Werner Heisenberg, pemenang hadiah Nobel tahun 1932. Ia mengumumkan apa yang disebutnya asas ketidakpastian.

Menurut asas ini, mustahil mempertautkan pada indera manusia semua sifat diskriptif sehari-hari dalam dunia “ghaib” subatomik. Bahkan sampai waktu kapan pun!

Memang, kini dikenal elektron punya deskriptif tertentu, seperti spin, massa, muatan, dan sebagainya.

Tapi semua itu tak lain hanyalah pendefinisian sifat gejala alam, ketimbang betul-betul observasi langsung.

Kita tak mungkin memungut sebiji atom lalu kita lakukan percobaan, kita ukur, dan sebagainya!

Percobaan hanya mungkin dilakukan dalam jumlah yang banyak. Semisal satu gram unsur yang terdiri dari berbilyun-bilyun atom.

Akibatnya hasil perhitungan hanyalah “kira-kira”. Pendekatan statistik, sebab ia hanya merupakan kesimpulan rata-rata dari sejumlah besar angka-angka.

Jika ilmu pengetahuan coba-coba melakukan eksperimen pada suatu satuan dasar, seperti halnya menyelidiki satu atom, apalagi satu elektron. Maka ia akan berhadapan dengan kemustahilan mutlak!

Banyak para ilmuwan merasa azas ketidakpastian Heisenberg adalah sifat hakiki alam semesta.

Mereka yakin, detail paling halus dalam kosmos sering diliputi kekaburan. Ia tak kan pernah dapat diterangkan atau diatasi oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tak kan sanggup mengenal hakekat segala sesuatu.

Seolah Heisenberg berkata, “Ada batas, di mana di luar batas itu kita mustahil bisa mengukur proses alam secara tepat pada waktu yang bersamaan.

Batas itu bukan disebabkan keterbatasan alat-alat pengamatan kita. Bukan pula akibat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kita.

Tetapi … memang, begitulah cara alam “memperlihatkan” dirinya pada manusia …”

Einstein sendiri juga menyadari, setiap besaran-besaran fisika yang kita ukur pasti akan selalu tersandung di bawah kerelatifan. Broglie pun akhirnya melontarkan gagasan dualisme zarah-gelombang.

MUSTAHIL

Maka, jelaslah bahwa upaya manusia untuk “melihat” atau “menangkap” hakikat terdalam dari semesta, apalagi alam ghaib, akan selalu terhalang oleh batas kodratinya. Semakin jauh ia menyelam ke kedalaman materi, semakin kabur gambaran yang diperoleh. Semakin canggih alatnya, semakin nyata fakta bahwa ada dinding tak kasat mata yang tidak dapat ditembus.

Dan batas ini bukan sekadar batas teknologi, melainkan batas ontologis — batas yang telah ditetapkan oleh Tuhan Sang Pencipta. Fisika modern, dengan segala kejayaannya, justru mengantarkan kita pada pengakuan yang sama: ada wilayah realitas yang tak mungkin kita jangkau, sekalipun semua teori dan instrumen telah kita kerahkan.

Dengan kata lain, jika manusia mustahil melihat secara langsung partikel terkecil yang masih bersifat fisik, maka apalagi alam ghaib yang sama sekali berada di luar ranah materi. Bagaimana mungkin sesuatu yang non-fisis dapat ditangkap oleh indera yang sepenuhnya fisis? Mustahil.

Tiada cara buat mengenal keghaiban, tiada cara mengukur yang hakekat, tiada cara buat mengamati kemutlakan!

Apa daya? Ya … betul … satu-satunya cara buat mengenal hakekat, buat mengenal yang mutlak, buat mengenal alam ghaib … hanyalah terbukanya hijab, tersingkapnya batas. Dan itu hanya mungkin jika Allah sendiri yang menginginkannya.

Allah sendiri yang akan memperkenalkan adanya malaikat, adanya makhluk ghaib, alam ghaib, dan sebagainya itu.

Ya satu-satunya cara … ialah kita imani. Kita percayai, tanpa sedikitpun menyelinap keraguan …!

Jangan tanya bukti fisis, sebab ia di luar wilayah bukti materi. Bukti hanya mungkin diterapkan buat alam fisis, alam syahadah. Itu pun hanya terbatas, dibatasi oleh alam itu sendiri …!

“Dia Allah, yang mengetahui yang ghaib. Dia tidak akan memperlihatkan kepada seorang pun hal yang ghaib itu. Kecuali pada utusan yang diridhai-Nya…” (QS. 72: 26-27)

Maha Benar Allah dengan segala Hukumnya!

 

___________
Catatan Penulis:
Artikel ini terbit di blog PustakaNilna tahun 2007 lalu dan sekarang diperbaharui lagi dengan beberapa tambahan isi dibantu oleh chatGPT. Tulisan lamanya bisa dilihat di https://web.archive.org/web/20170421152922/http://www.pustakanilna.com/alam-ghaib

Tentang Penulis

Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us