
Jika anda julurkan lidah ke arah bayi, bayi itu akan menjulurkan pula lidahnya kepada Anda. Bukalah mulut Anda, dan bayi pun akan membuka mulutnya.
Sekilas kemampuan bayi seperti ini tampak biasa-biasa saja. Akan tetapi jika kita pikirkan sejenak, sebenarnya kemampuan ini sungguh menakjubkan.
Bukankah dalam rahim sama sekali tidak ada cermin? Jadi bayi belum pernah melihat wajahnya sendiri. Tapi bagaimana ia tahu, dimana lidahnya berada?
Cara untuk mengetahui bahwa Anda berhasil melakukannya ialah melalui kinestesia, yaitu suatu perasaan internal yang mendeteksi tubuh kita sendiri. Dan subhanallah, sungguh menarik sekali, setiap bayi mampu melakukan hal itu! Sekalipun ia belum pernah melihat bentuk wajahnya!
Karena itu pastilah bayi sudah memahami kesamaan antara perasaan internalnya dengan wajah eksternal yang ia lihat (yaitu wajah Anda yang menjulurkan lidah padanya), yakni sebuah bentuk melingkar yang dari dalamnya keluar benda berwarna merah jambu panjang dan bergerak maju mundur.
Bayi tidak hanya mampu melihat, namun ia juga mengenali bahwa wajah yang ia lihat mirip dengan wajahnya sendiri.
Tabula Rasa
Selama bertahun-tahun “para ahli” berkeyakinan bahwa pikiran bayi kalah canggih dengan pikiran siput. Ketika lahir, bayi dianggap belum bisa melihat apa-apa. Mereka dimaklumi sebagai benar-benar “makhluk primitif” yang belum tahu apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa. Secara harfiah, ia sama sekali “bukan apa-apa”.
Filosof abad ke-17 yang sangat termasyhur, John Locke, membuat sebuah metafora yang sampai hari ini masih ada dalam teks-teks referensi di sekolah-sekolah, bahwa setiap bayi adalah sebuah lembaran kosong. Terkenal sekali dengan ungkapan “tabula rasa”.
Pandangan ini sampai sekarang masih hidup kuat dalam pemahaman kebanyakan orang tua.
Maka banyak orang tua yang mengabaikan apa yang dipikirkan bayi dan anak-anaknya ketika mereka berperilaku.
Bahkan ada mungkin beberapa orang tua berani melakukan hubungan suami istri ketika berada di dekat bayinya. Mereka menganggap bayinya kan “tak tahu apa-apa”.
Juga masih cukup banyak kita saksikan orang-orang dewasa menonton televisi atau film sambil menggendong bayinya.
Padahal yang dilihat dan didengar oleh bayi itu sebagiannya adalah kata-kata yang kasar, adegan-adegan kekerasan, atau lelucon maksiat murahan.
Bayi Belajar Tanpa Sadar
Riset psikologi perkembangan membuktikan bahwa pandangan bayi itu “tak tahu apa-apa” … sama sekali salah. Andrew Meltzoff, Ph.D, seorang professor psikologi di Universitas Washington, membuat penemuan yang mengagetkan, tahun 1977.
Ia berhasil membuktikan bahwa bayi mampu menirukan gerak manusia, bahkan sejak hari pertama! Walau tentu tidak pada semua bayi secara umum.
Awalnya ia melakukan percobaan terhadap bayi usia 3 minggu. Agar dia yakin sekali bahwa bayi benar-benar melakukan peniruan, bukan “salah perkiraan” karena memang sulit membedakan ekspresi wajah bayi yang terus menerus berubah, Andrew merekam wajah-wajah bayi itu dalam videotape.
Lalu dia menunjukkan rekaman-rekaman wajah bayi kepada orang lain, seseorang yang netral dan obyektif yang sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilihat oleh bayi ketika mereka memunculkan berbagai ekspresi wajah.
Professor Andrew berhasil membuktikan bahwa ada hubungan sistematis antara apa yang dilakukan bayi (yang dinilai oleh pengamat yang netral) dengan apa yang dilihat oleh si bayi (sehingga ia berekspresi tertentu).
Lebih jauh lagi, ia ingin menunjukkan bahwa kemampuan meniru ini benar-benar adalah bawaan sejak lahir. Maka ia menyiapkan sebuah laboratorium di sebelah ruang pekerja di rumah sakit setempat dan meminta orangtua bayi agar memanggil dirinya jika si bayi hampir lahir.
Selama setahun, dia terbangun pada tengah malam atau tergopoh-gopoh keluar dari sebuah rapat, terburu-buru lari ke rumah sakit, untuk mengetahui hasil lebih lanjut.
Akhirnya ia berhasil menguji banyak bayi sebelum mereka berumur satu hari. Bayi termuda yang ia uji berusia hanya 42 menit. Bayi-bayi tersebut terbukti meniru gerak manusia.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa ternyata otak bayi sudah aktif belajar melalui pembelajaran bawah sadar (implicit learning), bahkan sejak dalam kandungan.
Penelitian DeCasper & Spence (1986) menunjukkan bahwa bayi yang sering mendengar ibunya membacakan cerita The Cat in the Hat saat hamil, setelah lahir lebih memilih mendengar cerita itu dibanding cerita lain. Artinya, memori dan preferensi suara bisa terbentuk bahkan sebelum mereka lahir.
DeCasper & Fifer (1980) juga membuktikan bahwa bayi dapat mengubah pola mengisap dot agar bisa mendengar suara ibunya. Bayi ini jelas belum paham konsep “eksperimen” atau “memilih,” tetapi tubuhnya belajar menyesuaikan perilaku untuk mendapatkan suara yang diinginkan.
Otak bayi di awal kehidupan memang belum siap untuk berpikir logis atau memahami bahasa, tetapi sudah sangat siap merekam pola, suara, dan ekspresi di sekitarnya.
Pembelajaran ini terjadi otomatis, lewat bawah sadar, dan bisa memengaruhi rasa aman, ikatan dengan orang tua, bahkan preferensi mereka di masa depan.
Saintis Kecil
“Bayi dan anak-anak adalah seorang saintis,” tulis tiga orang professor psikologi terkenal, Alison Gopnik, Andrew N. Meltzoff dan Patricia K. Kuhl, dalam karya ilmiahnya, “The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us About The Mind” (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Kaifa berjudul Keajaiban Otak Anak).
Laksana seorang ilmuwan hebat, setiap bayi menyelidiki sifat benda-benda disekitarnya. Mereka berpikir, mengobservasi, dan bernalar. Ibarat psikolog mereka juga berusaha membaca pikiran orang-orang yang dijumpainya. Dia membuat perkiraan, mengujicobanya, mempertimbangkan bukti, lalu menarik kesimpulan, melakukan eksperimen lagi, memecahkan masalah, mengoreksi bila ternyata kesimpulan itu salah dan terus mencari kebenaran. Hanya saja memang, mereka tidak melakukan semua ini dengan cara yang sadar-diri sebagaimana para ilmuwan melakukannya. Mereka adalah saintis dalam tubuh kanak-kanak!
Karena itu marilah kita berhati-hati ketika kita berada di dekat bayi dan anak-anak kita.
Tak terkecuali ketika menggendong bayi kita yang masih berumur beberapa hari. Mereka belajar dari apapun yang kita ucapkan, dan yang kita lakukan.