“Substansi Diri” yang Diam-diam Kita Bentuk Setiap Hari: Tinjauan Psikologi dan Filsafat Islam

... berhati-hatilah dengan apa yang kita tanam menjadi substansi diri kita —karena di sanalah wajah ukhrawi kita sedang dibentuk

Iqbal
Iqbal - Bloggerpreneur
446 Views
20 Min Read

Manusia adalah makhluk yang hidup dalam dua dimensi: jasmani dan ruhani. Tubuh jasmani memberi kita kemampuan bergerak, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia; sementara ruhani memberi makna, tujuan, dan arah pada seluruh gerak itu. Keduanya bukan dua entitas terpisah, tetapi dua lapisan yang saling menembus dan membentuk kesatuan keberadaan manusia.

Namun di dalam diri manusia yang menyatu itu terdapat tingkatan-tingkatan batin. Kita memiliki pikiran yang terang—yang bisa memilih, menimbang, dan mengambil keputusan. Tetapi di baliknya bekerja lapisan lain yang lebih halus, lebih cepat, dan sering kali lebih menentukan: wilayah batin yang menyimpan kebiasaan, dorongan, emosi, dan pola respons yang berjalan otomatis.

Dari sinilah muncul gagasan tentang dua lapisan kerja batin: lapisan sadar yang tampak, dan lapisan tak sadar yang menggerakkan sebagian besar hidup kita di luar kendali sadar. Psikologi modern membahasnya sebagai conscious dan unconscious (atau automatic processing). Filsafat Islam membahasnya melalui dinamika nafs, akal, dan ruh.

Memahami kedua lapisan ini penting bukan hanya untuk mengenali diri, tetapi juga untuk memahami bagaimana diri dibentuk, berubah, dan bertumbuh—baik secara psikologis maupun spiritual.

Artikel ini menunjukkan bahwa proses bawah sadar dalam psikologi dan pengembangan jiwa dalam filsafat Islam, bukan sebagai konsep identik, melainkan sebagai dua model yang menggambarkan dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda.

Manusia dalam dua lapis kesadaran

Yang pertama mudah kita kenali—pikiran sadar: bagian diri yang menimbang, memilih, dan mengambil keputusan. Tapi di bawah permukaan itu, ada lapisan lain yang lebih kuat, lebih cepat, dan sering menentukan arah hidup kita tanpa kita sadari. Lapisan itu dikenal sebagai bawah sadar.

Para psikolog modern menganggap bawah sadar sebagai sistem otomatis yang menyimpan kebiasaan, ingatan, dan emosi yang berulang. Ia bekerja secara otomatis dan cepat, tetapi tidak ‘patuh’ pada perintah pikiran sadar. Proses bawah sadar membentuk kebiasaan dan respons spontan, namun sering kali berjalan berbeda dari niat sadar.

Karena itu, keyakinan dan kebiasaan yang berulang dapat memengaruhi respons otomatis, bukan dalam bentuk perintah langsung, melainkan melalui pembiasaan. Pernyataan seperti ‘aku tidak mampu’ tidak bekerja sebagai ‘perintah’ kepada bawah sadar, tetapi dapat memperkuat pola pikir negatif dan kebiasaan kognitif yang melemahkan motivasi dan persepsi diri.

Terminologi bawah sadar ini populer berkat Sigmund Freud pada awal abad ke-20. Ia menyebut bahwa di balik pikiran sadar, terdapat lapisan batin yang menyimpan dorongan, trauma, dan hasrat yang tak tersentuh nalar. Carl Jung kemudian memperluasnya menjadi “ketidaksadaran kolektif”, yakni reservoir simbol dan arketipe yang membentuk perilaku manusia lintas budaya.

Kini, lebih dari seabad kemudian, istilah bawah sadar tak lagi sekadar konsep psikoanalitik, melainkan objek kajian serius dalam psikologi kognitif dan neurosains modern.

Namun menariknya, jauh sebelum Freud, para pemikir Islam telah berbicara tentang dinamika jiwa yang sangat mirip. Filsafat Islam klasik, terutama melalui tokoh seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan puncaknya Mulla Sadra, sudah menggambarkan manusia sebagai makhluk berlapis-lapis kesadaran: jasmani, nafsani, dan ruhani. Jiwa dalam pandangan mereka bukan substansi pasif, tetapi entitas hidup yang tumbuh, berubah, dan menyerap seluruh pengalaman.

Inilah yang membuat pembacaan silang antara sains modern dan filsafat Islam menjadi begitu menarik—karena keduanya berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa yang berbeda: bagaimana manusia mengenal dirinya di bawah permukaan kesadaran.

“Bawah Sadar” dalam Psikologi dan Neurosains

Freud memperkenalkan istilah das Unbewusste —ketidaksadaran—untuk menjelaskan lapisan psikis yang berisi dorongan primitif, konflik batin, dan memori yang tertekan. Ia membagi struktur mental menjadi tiga wilayah: sadar (conscious), pra-sadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Wilayah terakhir ini memengaruhi perilaku tanpa kita sadari; misalnya, seseorang dapat merasa takut pada laut tanpa memahami bahwa rasa takut itu berakar pada pengalaman masa kecil yang terlupakan.

Namun pemahaman modern tentang ketidaksadaran telah bergeser. Psikologi kognitif tidak lagi melihatnya semata sebagai “penjara hasrat gelap”, tetapi lebih sebagai rangkaian proses otomatis yang memungkinkan manusia bertindak cepat dan efisien tanpa pemikiran eksplisit.

Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menyebut dua sistem berpikir: System 1 (cepat, intuitif, otomatis) dan System 2 (lambat, rasional, reflektif). System 1 adalah proses mental yang bekerja spontan dan sebagian besar berada di luar kesadaran penuh. Ia mirip dengan konsep bawah sadar dalam hal sifatnya yang otomatis, meski tidak identik dengan ‘unconscious’ versi psikoanalisis. Saat kita mengendarai kendaraan, membaca ekspresi wajah, atau bereaksi spontan terhadap bahaya, kita mengandalkan sistem ini.

Neurosains memberikan gambaran tambahan. Otak memiliki jaringan yang disebut Default Mode Network (DMN)—sekumpulan area yang aktif ketika kita tidak sedang fokus pada tugas tertentu. DMN terutama aktif ketika pikiran mengembara.

Antonio Damasio, seorang neurolog terkemuka, menunjukkan bahwa emosi memainkan peran penting dalam penilaian cepat dan pengambilan keputusan praktis. Ia tidak mengatakan bahwa intuisi selalu lebih tepat, tetapi bahwa rasionalitas itu sendiri bergantung pada sistem emosional yang sehat.

Dalam Descartes’ Error, Damasio menunjukkan bagaimana sinyal emosional—sering kali bekerja di luar kesadaran penuh—memberi arah bagi penilaian kita. Dengan demikian, proses tak sadar bukanlah lawan logika, melainkan fondasi tempat logika dapat berfungsi.

Studi neurosains kontemporer juga menunjukkan bahwa kebiasaan, persepsi diri, dan bahkan kecenderungan moral dibentuk melalui pengulangan pola saraf (neuroplastisitas). Setiap pikiran atau tindakan yang diulang memperkuat jalur neuron tertentu.

Dengan kata lain, apa yang terus kita lakukan atau pikirkan secara otomatis akan membentuk cara otak bekerja dari waktu ke waktu. Inilah padanan ilmiah dari pepatah lama: “Kau adalah apa yang kau pikirkan.”

Kesadaran Sebagai Gerak Menuju Kesempurnaan

Dalam khazanah Islam klasik, istilah nafs sering diterjemahkan sebagai “jiwa”. Namun berbeda dengan pandangan modern yang memisahkan pikiran dan tubuh, Islam melihat manusia secara integratif: tubuh, jiwa, dan ruh membentuk satu kesatuan eksistensial.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menggambarkan jiwa manusia seperti cermin: memantulkan kebenaran ketika bersih, tetapi menjadi gelap ketika tertutup hawa nafsu. Karena itu Ghazali menekankan latihan spiritual (riyadhah al-nafs) sebagai cara “memoles” cermin itu—yakni mengendalikan dorongan bawah sadar dan menumbuhkan kesadaran moral.

Ibnu Sina melangkah lebih jauh. Dalam al-Nafs (bagian dari Kitab al-Syifa’), ia memandang jiwa sebagai substansi immaterial yang memiliki kemampuan persepsi dan gerak, tetapi tumbuh seiring dengan tubuh. Menurutnya, jiwa manusia berawal dari potensi (seperti biji), lalu berkembang menjadi aktual (seperti pohon) melalui pengalaman dan pengetahuan.

Gagasan itu mencapai bentuk filosofis tertingginya pada Mulla Sadra (1571–1640), pendiri aliran Hikmah Muta’aliyah (teosofi transendental). Sadra menolak pandangan bahwa jiwa diciptakan terpisah dari tubuh. Sebaliknya, jiwa justrulahir dari tubuh” melalui apa yang disebut al-harakah al-jawhariyyah (gerak substansial). Ini adalah gerak dalam “substansi eksistensi”, bukan gerak ruang, waktu, atau tubuh.

Menurut Sadra, seluruh realitas bersifat dinamis. Substansi bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan ia terus bergerak menuju kesempurnaan. Jiwa manusia adalah contoh paling nyata dari gerak substansial ini—berawal dari bentuk material (embrio biologis), berkembang menjadi kesadaran imajinatif, lalu meningkat menjadi kesadaran rasional dan spiritual.

Pandangan ini revolusioner karena menjadikan jiwa sebagai proses evolutif kesadaran. Tubuh dan pengalaman duniawi bukan penghalang spiritualitas, melainkan tahap-tahap pembentukan diri.

Jiwa mengumpulkan seluruh pengalaman —baik pikiran, emosi, maupun amal— dan mengkristalkannya menjadi “tubuh ruhani“, yakni bentuk eksistensi batin yang akan terus hidup bahkan setelah kematian, menuju alam akhirat.

Dengan kata lain, semua yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan membangun bentuk hakiki diri kita—sebagaimana analogi kebiasaan berpikir membentuk jalur otak menurut neurosains modern.

Bawah Sadar sebagai Lapisan Jiwa yang Bergerak

Jika psikologi modern memahami bawah sadar sebagai sistem otomatis yang menyimpan kebiasaan dan pola respons, sementara Mulla Sadra melihat jiwa sebagai entitas dinamis yang terus berkembang melalui pengalaman, maka keduanya pada dasarnya sedang mengamati dinamika batin manusia dari dua sudut yang berbeda. Ini bukan penyamaan literal, tetapi pendekatan paralel untuk membaca proses internal manusia melalui dua bahasa keilmuan yang berlainan.

Ketika manusia hidup tanpa refleksi—terjebak dalam reaksi spontan, kebiasaan, dan dorongan emosional—ia berjalan dalam mode otomatis, analog dengan apa yang dalam psikologi disebut proses bawah sadar.

Namun ketika seseorang mulai menyadari pikiran, dorongan, dan motifnya, tingkatan nafs nya mulai naik: dari nafs ammarah (jiwa yang cenderung mengikuti dorongan rendah) menuju nafs lawwāmah (jiwa yang mulai menegur dan menilai diri). Dan ketika kesadaran itu menjadi stabil dan matang, ia mencapai nafs muṭmainnah —jiwa yang tenang karena seluruh kecenderungan batinnya sudah selaras dengan nilai moral dan orientasi spiritual.

Dalam bahasa sederhana: ketika pikiran sadar dan pola otomatis batin (bawah sadar) bergerak ke arah yang sama, manusia merasakan ketenangan batin dan moralitas yang mantap. Tetapi ketika keduanya bertentangan—akal sadar menginginkan kebaikan, sementara kebiasaan emosional dipenuhi dendam, iri, atau prasangka—jiwa pun mengalami kegoncangan.

Di sinilah pentingnya latihan spiritual—doa, zikir, munajat, shaum, tafakkur, dan muhasabah. Semuanya merupakan bentuk pelatihan kesadaran yang membantu akal sadar menyelaraskan kembali pola respon otomatis di dalam diri.

Dalam psikologi, proses ini mirip dengan reprogramming pola pikir dan kebiasaan mental. Dalam spiritualitas Islam, ia dikenal sebagai tazkiyah al-nafs —penyucian jiwa. Keduanya menunjukkan bahwa kebiasaan batin dapat dibentuk melalui pengulangan dan disiplin.

Neuroplastisitas mendukung pandangan ini: pengulangan pola pikir dan perilaku memperkuat koneksi saraf tertentu. Sementara dalam tradisi spiritual, zikir, muhasabah, dan praktik-praktik batin lainnya membentuk kecenderungan moral dan emosional yang stabil. Kedua pendekatan ini berbicara tentang pembentukan diri melalui kebiasaan, meskipun berangkat dari kerangka konseptual yang berbeda.

Neuroplastisitas Spiritual: Sains di Balik Disiplin Batin

Beberapa studi mutakhir menunjukkan bahwa meditasi dan doa berulang-ulang dapat memengaruhi pola aktivitas dan konektivitas otak. Andrew Newberg, dalam How God Changes Your Brain (2009), menjelaskan bahwa praktik spiritual teratur meningkatkan aktivitas di lobus frontal (pusat perhatian) dan menurunkan aktivitas di amigdala (pusat rasa takut). Efeknya, seseorang menjadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih berempati.

Zikir atau doa dalam Islam bekerja dengan mekanisme serupa: mengarahkan perhatian berulang kepada satu objek (asma Allah), sehingga menenangkan sistem saraf otonom dan memperkuat pola neural yang terkait dengan ketenangan. Fenomena ini memberikan dasar biologis bagi keyakinan lama bahwa amal batin membentuk diri seseorang, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara psikologis dan fisiologis.

Di sinilah filsafat Sadra menemukan pantulannya dalam neurosains. Gerak substansial Sadra—gagasan bahwa jiwa terus berkembang dan pengalaman membentuk hakikat eksistensinya—dapat dipahami secara analogis dengan konsep neuroplastisitas, karena keduanya melihat manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses perubahan.

Keduanya tidak berbicara dalam bahasa yang sama, tetapi keduanya menunjukkan arah yang serupa: bahwa pengulangan pikiran dan tindakan membentuk dasar keberadaan manusia—dalam filsafat disebut ‘substansi jiwa’, dan dalam neurosains tampak sebagai pola konektivitas jaringan neuron.

Dengan kata lain, manusia bukan makhluk statis, tetapi makhluk yang terus menjadi.

Moralitas dan Arsitektur Bawah Sadar

Setiap tindakan moral lahir dari kebiasaan batin. Aristoteles menyebutnya ethos —karakter sebagai hasil pengulangan tindakan. Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan akhlaq: perilaku yang mengalir secara otomatis dari diri yang sudah terbentuk.

Dengan demikian, akhlak bukan hasil keputusan sadar sesaat. Akhlak dapat dipahami sebagai kebiasaan batin yang telah tertanam kuat sehingga muncul spontan. Ini tidak harus dipahami sebagai struktur ‘bawah sadar’ secara neurologis, tetapi sebagai integrasi antara kesadaran, karakter, dan kebiasaan moral.

Seseorang yang jujur bukan karena berpikir “aku harus jujur”, tetapi karena kejujuran telah menjadi refleks batinnya, atau substansi dirinya. Sebaliknya, orang yang curang tidak perlu belajar berbuat curang; sebab pola itu telah tertanam sebagai kecenderungan batinnya yang otomatis.

Inilah mengapa para ulama menekankan mujahadah an-nafs —perjuangan melawan diri sendiri. Ia bukan perang dengan setan eksternal, melainkan kerja keras mengubah pola batin. Setiap kali seseorang menahan amarah, mengubah prasangka, atau menahan lidahnya, ia sedang menulis ulang pola respons batin yang kelak membentuk wajah ruhani atau bentuk dirinya di akhirat.

Setiap keyakinan, emosi, perbuatan, dan kebiasaan yang kita tanam tidak hanya membentuk perilaku saat ini, tetapi juga memahat substansi ruhani kita di masa depan.

Mulla Sadra menyebut tubuh ruhani atau tubuh ukhrawi itu sebagai “eksistensi halus” yang terbentuk dari kualitas batin seseorang.

Karena itu, ketika Al-Qur’an menyatakan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (QS. Al-Syams: 9–10), ayat tersebut bukan sekadar metafora moral, melainkan pernyataan eksistensial bahwa struktur jiwa manusia dibentuk oleh apa yang ia pikirkan dan biasakan.

Krisis Kesadaran di Era Digital

Manusia modern hidup dalam paradoks: informasi melimpah, tetapi kesadaran melemah.

Kita dikelilingi notifikasi, algoritma, dan citra yang menuntut reaksi cepat. Akibatnya, hidup mental kita bergeser dari refleksi ke reaksi. Kita jarang hadir sepenuhnya dalam pikiran sendiri.

Dalam bahasa psikologi, ini berarti dominasi proses otomatis yang tidak tersadari. Dalam bahasa sufistik, ini berarti terperangkap dalam nafs yang belum disucikan.

Neurosains menunjukkan (temuan ini masih berkembang) bahwa paparan distraksi digital yang terus-menerus dapat mengganggu kemampuan fokus dan kontrol perhatian—fungsi yang berkaitan dengan korteks prefrontal (pusat perhatian dan pengendalian diri). Ini bukan kerusakan permanen, tetapi gangguan pada pola penggunaan perhatian.

Hal ini menjelaskan mengapa manusia modern mudah gelisah, impulsif, dan kehilangan rasa makna. Kita tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan ruang batin untuk mengolahnya.

Latihan spiritual—doa, zikir, refleksi, atau meditasi—adalah cara untuk mengembalikan otoritas kesadaran. Ia bukan pelarian mistik, tetapi perlawanan terhadap hegemoni reaksi otomatis.

Ketika seseorang duduk tenang, mengamati pikirannya tanpa larut di dalamnya, ia sedang memutus rantai dominasi impuls batin. Itulah langkah pertama menuju kebebasan jiwa.

Baik Freud maupun Mulla Sadra melihat manusia sebagai medan pergulatan batin: antara dorongan dan kesadaran, antara potensi dan aktualisasi.

Pada kedalaman tertentu, keduanya mengakui bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menjadi lebih dari dirinya sekarang. Neurosains modern menegaskan kapasitas itu secara biologis; filsafat Islam menegaskannya secara ontologis.

Alam batin manusia adalah ladang. Ia menumbuhkan apa pun yang kita tanam—baik keburukan maupun kebaikan.

Karena itu, tugas utama manusia bukan menolak kecenderungan batinnya, tetapi menyadarinya dan menatanya. Setiap doa, niat baik, dan kebiasaan positif adalah cara kita membentuk struktur batin. Sebaliknya, setiap pikiran negatif atau tindakan destruktif adalah benih yang akan tumbuh menjadi bentuk ruhani yang gelap.

Ketika ilmu dan spiritualitas bertemu, kita memahami bahwa “menyucikan jiwa” bukan slogan mistik, melainkan proses nyata pembentukan diri. Kita sedang membentuk bukan hanya pikiran, tapi juga substansi diri dan hakikat eksistensi kita.

Maka berhati-hatilah dengan apa yang kita lakukan dan yang kita ulangi setiap hari  —karena di sanalah wajah ruhani kita sedang dibentuk.

Kesimpulan

Bawah sadar dalam psikologi modern adalah kumpulan proses otomatis—kebiasaan, pola respons, emosi, dan keyakinan—yang terbentuk melalui pengulangan pengalaman. Sementara itu, tubuh ruhani dalam filsafat Mulla Sadra adalah bentuk eksistensi batin yang terbentuk dari kualitas jiwa sepanjang perjalanan hidup.

Hubungan antara keduanya bukan hubungan identitas, tetapi hubungan proses. Mereka tidak sama, namun berhubungan secara analogis: bawah sadar adalah wilayah tempat kebiasaan batin terbentuk, sedangkan tubuh ruhani adalah bentuk eksistensial yang lahir dari kebiasaan tersebut. Psikologi menjelaskan mekanisme pembiasaan itu secara mental; tasawuf dan filsafat Islam menjelaskan konsekuensi ontologisnya.

Apa yang kita ulangi di dalam batin—baik secara sadar maupun otomatis—membentuk diri kita pada dua tingkat:
– Tingkat psikologis: pola bawah sadar sebagai kebiasaan mental dan emosional.
– Tingkat spiritual: kualitas batin yang terus diulang mengkristal menjadi tubuh ruhani, yakni bentuk eksistensi halus diri di hadapan Tuhan.

Dengan kata lain: psikologi menjelaskan bagaimana kebiasaan terbentuk, sementara tasawuf menjelaskan apa yang kebiasaan itu jadikan dari diri kita. Maka hubungan keduanya dapat diringkas secara metafora paralel:

bawah sadar adalah tanahnya; tubuh ruhani adalah buah dari apa yang kita tanam di dalamnya.

Pemahaman paralel antara proses bawah sadar dan perkembangan jiwa ini memiliki konsekuensi praktis yang penting.

Dalam pendidikan, ia menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak cukup melalui transfer pengetahuan, tetapi membutuhkan pembiasaan batin yang konsisten—mulai dari pengendalian diri hingga keterampilan refleksi.

Dalam kesehatan mental, ia menunjukkan perlunya menyelaraskan pikiran sadar dan pola otomatis melalui terapi, latihan kesadaran, dan rekonstruksi kebiasaan—proses yang sejalan dengan tazkiyah al-nafs sebagai penataan ulang dorongan batin.

Dalam praktik keagamaan, ia menempatkan ibadah bukan sekadar ritual, tetapi sebagai disiplin yang membentuk struktur batin: doa, zikir, dan muhasabah menjadi cara merawat “tanah jiwa” tempat kecenderungan moral dan emosional bertumbuh.

Dengan demikian, pertemuan antara ilmu modern dan spiritualitas tidak berhenti pada teori, tetapi memberi panduan nyata tentang bagaimana manusia membentuk dirinya—sebagai pelajar, sebagai makhluk psikologis, dan sebagai hamba.

 

Buku Untuk Kajian Lebih Lanjut

  • Sigmund Freud – The Interpretation of Dreams (1900)
  • Carl Jung – The Archetypes and the Collective Unconscious (1959)
  • Daniel Kahneman – Thinking, Fast and Slow (2011)
  • Antonio Damasio – Descartes’ Error (1994)
  • Andrew Newberg – How God Changes Your Brain (2009)
  • Al-Ghazali – Ihya’ Ulum al-Din
  • Ibnu Sina – Kitab al-Syifa’
  • Mulla Sadra – al-Asfar al-Arba‘ah

___________
Catatan Penulis:

Artikel ini ditulis dengan bantuan penulisan oleh chatGPT, dengan arahan substansi, gaya tulisan, desain alur, koreksi dan kurasi manual oleh penulis.

Tentang Penulis

Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Bloggerpreneur
Follow:
Saya nilna iqbal, pria kelahiran Padang tahun 1967. Entah mengapa orang tua saya memberi nama itu. Saya diberitahu nama itu diambil dari bahasa arab yang maknanya kurang lebih "kabulkanlah cita-cita kami". Jadi saya menganggapnya sebagai doa orangtua. Kegiatan utama saya saat ini lebih banyak di dunia online, khususnya bikin website, bikin tulisan, bikin iklan, lalu belajar, kemudian belajar dan terus belajar ....
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WA Follow Us